Pesan

Entah tak sadar atau tak peduli, Prita sudah berjam-jam duduk di ruangan yang gelap. Sinar dari layar monitor satu-satunya sumber cahaya. Ia bahkan tak menyadari jalan-jalan kota di bawah sudah mulai sepi. Teh di gelasnya sudah dingin. Angin malam telah berhenti bertiup. Namun matanya tak dapat berhenti menyisir baris-baris kode di layar sambil jemarinya sesekali mengetikkan perintah di papan kunci.

Beberapa jam sebelumnya Prita mendapat sebuah surel dari kantor, melalui jaringan lokal mereka. Observatorium tempatnya bekerja menemukan data misterius pada data transmisi rutin. Sebuah data yang tersembunyi di balik sinyal radio normal. Tidak ada yang tahu apa artinya, tapi mereka semua sepakat, sumbernya bukan dari Bumi. Saat Prita berusaha mengonfirmasi isi surel, memastikan bahwa ini bukan keisengan rekan-rekannya di kantor, atasannya menelepon.

“Doktor Prita,” sapa seorang perempuan di telepon. Suara lalu lintas terdengar di latar belakang. “No pressure, tapi kami harap kamu bisa menyelesaikan proses dekode secepatnya. Saya baru saja mendapat telepon dari kementrian agar data ini dimusnahkan.”

“Dimusnahkan? Kenapa? Data yang kita pegang bisa jadi adalah penemuan ilmiah tahun ini. Abad ini bahkan.”

“Saya tahu. Itu sebabnya kami berharap kamu bisa segera menerjemahkan pesan tersebut. Setidaknya mendapatkan sesuatu yang dapat mencegah kementrian melakukan hal bodoh.”

“Tentu, Bu. Saya sangat memahami,” balas Prita.

“Mereka akan mengirimkan regu pengawas besok pagi ke kantor. Untuk menyita segala data transmisi.”

“Saya akan selesaikan malam ini, Bu. Besok pagi kita akan punya alasan untuk menangguhkan permintaan kementerian.”

“Aku harap begitu. Terima kasih, Doktor.” Telepon ditutup.

 

Menjelang tengah malam, Prita selesai mengekstrak data yang bersembunyi di balik pola gelombang transmisi. Hasilnya adalah baris angka. Baris angka yang sangat panjang, hingga beberapa triliun karakter. Ia mencoba mengkonversi data ini ke dalam berbagai format, mengharapkan menemukan sesuatu. Tapi tidak ada yang memiliki arti signifikan. Seolah-olah data tersebut terenkripsi dan ia membutuhkan kunci sandinya.

Tiba-tiba Prita teringat pada anomali yang ia temukan beberapa bulan sebelumnya. Sebuah pola data yang tidak lazim yang diperoleh penerima sinyal observatorium. Sebuah data pendek, tak lebih dari beberapa kilobyte. Setelah didiskusikan dengan peneliti lain di observatorium, termasuk atasannya, anomali ini lantas dilaporkan sebagai gangguan acak, kemungkinan besar pengaruh aktivitas matahari yang tak terdeteksi oleh sistem normal.

Instingnya mengatakan bahwa anomali tersebut memiliki hubungan dengan data misterius yang tersembunyi di dalam transmisi yang sedang ia tangani. Ia mengakses catatan di repositori observatorium dan mengunduh data anomali ke komputernya. Pengalaman bertahun-tahun menganalisa pola memberinya intuisi untuk segera mencoba data tersebut ke dalam format gambar. Intuisinya tepat. Data tersebut membentuk pola gambar yang jelas, menyerupai matriks dua dimensi kode batang. Ia heran kenapa tidak memikirkan hal ini saat menemukan anomali beberapa bulan ke belakang.

Menggunakan algoritma yang sama dengan yang ia gunakan untuk menerjemahkan data anomali ke dalam format gambar, Prita memasukkan data misterius ke dalam sistem pencitraan. Lampu indikator aktivitas unit pemroses sentral berkerlap-kerlip. Suara kipas pendingin mendengung kencang. Komputer bekerja maksimal memproses data.

Sekali lagi intuisinya terbukti tepat. Anomali yang ia temukan adalah kunci sandi data misterius.

 

Prita menyambungkan layar televisinya ke unit komputer. Layarnya yang lebar perlahan-lahan menampilkan gambar yang dihasilkan dari data temuan.

Ruang apartemen itu sedikit demi sedikit menjadi lebih terang oleh citra yang perlahan memenuhi layar. Sebuah struktur persegi dengan motif acak berbagai warna, bujursangkar, segitiga, oval. Lingkaran dengan radius yang berbeda-beda tertambat berselang-seling. Prita berusaha keras mengartikan gambar tersebut, namun ia kewalahan. Ia mulai merasa bahwa citra yang ada di layar sama sekali tak berarti. Data tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih menyerupai karya seni abstrak digital daripada sebuah pesan tersembunyi. Ada sesuatu yang salah, pikir Prita.

Telepon berdering mengejutkan Prita.

Ia perlahan-lahan menghampiri meja tempatnya meletakkan ponsel. Getaran dari dering membuat permukaan meja ikut menambah derau di dalam ruangan.

Layar menampilkan sebuah nomor tak dikenal. Prita melihat ke arah jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Ia menekan tombol terima.

“Halo,” ujar Prita pelan.

“Jangan dilanjutkan,” balas suara di sambungan.

“Apa yang jangan dilanjutkan? Siapa ini?”

Sambungan telepon mati.

Rasa heran Prita hanya bertahan beberapa detik. Pikirannya masih tertambat pada misinya menerjemahkan data.

Saat matanya menatap layar televisi dari samping, Prita menyadari gambar yang ada di layar seolah memiliki pola yang lebih jelas. Hal ini memberinya ide.

Prita bergegas kembali berada di depan komputer. Ia segera mengutak-atik algoritma yang ia gunakan untuk menampilkan gambar, mencoba mengganti sudut render pada beberapa cuplikan data. Prita tahu apa yang ia kejar, ia hanya membutuhkan nilai sudut yang tepat. Sistem mengeluarkan gambar-gambar di variasi satu derajat. Prita menatap dengan sabar saat belasan hingga puluhan gambar serupa dengan rotasi berbeda muncul di layar komputernya. Lalu pada rotasi ke seratus tiga puluh tujuh, ia melihat sesuatu. Prita melakukan rotasi secara manual di satuan lebih kecil, mencoba memperbaiki kualitas gambar. Dan di rotasi 137.50776 derajat, ia melihatnya. Sebuah potongan gambar, berisi simbol-simbol yang menyerupai manusia.

Golden angle, gumam Prita saat menatap nilai derajat di algoritma.

Tak ingin membuang waktu ia segera menjalankan kembali proses dekode data misterius beserta kunci sandinya. Kali ini memasukkan variabel baru golden angle ke dalam perhitungan.

Proses render dimulai dari awal. Layar televisi menghitam, apartemennya ikut gelap gulita. Lalu tak berapa lama kemudian secercah cahaya perlahan muncul. Sebuah titik hasil pengolahan data mulai tertera di layar. Sedikit demi sedikit membentuk gambar. Jantung Prita berdegup lebih kencang.

Dering dari ponsel kembali mengejutkannya. Nomer tak dikenal yang sama. Prita segera menjawab panggilan.

“Kamu siapa? Mau apa telepon tengah malam begini?” tanya Prita gusar.

“Hentikan apa yang sedang kau kerjakan. Kau dalam bahaya.”

“Apa maksudmu? Kamu mengancam saya?”

Klik.

Panggilan telepon kembali dimatikan. Prita tak mendapatkan apa-apa, hanya rasa penasaran. Akan tetapi, kali ini panggilan telepon misterius itu membuatnya gusar. Terutama kalimat terakhir si penelepon.

Prita menyetel ponselnya menjadi mode hening. Ia berjalan ke arah balkon apartemennya dan menatap keluar. Dari lantai dua puluh Prita menyapu pandangannya ke wilayah kota. Hanya satu dua kendaraan yang masih terlihat bergerak di jalan-jalan di bawah. Pesisir laut di cakrawala terlihat hitam kelam di bawah langit malam yang mendung tanpa rembulan. Ia buru-buru mengunci pintu, jendela serta menutup tirai-tirainya. Prita berjalan cepat ke arah pintu depan. Ia menatap keluar melalui slot di pintu. Hanya  koridor kosong. Prita memastikan pintu telah terkunci dan memasang slot rantai, untuk berjaga-jaga.

Gambar di layar televisi telah terbentuk setengahnya. Prita mengambil ponselnya, mengambil foto, lalu membuka mesin pencari. Seperti dugaannya, tak ada hasil pencarian yang sesuai. Namun senarai rekomendasi menampilkan informasi dengan kategori yang sama: piktograf Mesoamerika.

Prita mengunduh semua informasi yang berhasil ia temukan di internet tentang piktograf Mesoamerika. Ia berlari ke kamar, mengambil sebuah piranti pencetak gambar, dan menghubungkannya ke komputer. Piranti tua itu berderit dan berdecit mencetak berbagai macam piktograf beserta penjelasannya. Satu persatu Prita membandingkan cetakan di kertas dengan gambar yang ada di layar televisinya. Saat menemukan kecocokan, ia segera menuliskannya di sebuah papan tulis besar yang tergantung di sebelah meja komputer. Satu jam telah terlewati, Prita telah menorehkan beberapa baris kata di sana. Beberapa dicoret, yang lainnya dilingkari. Semua kesibukan ini, ditambah suara dari pencetak yang tak henti mengeluarkan kertas-kertas dengan gambar piktograf di atasnya, membuat Prita tak menyadari kegaduhan yang terjadi di luar.

Ia juga tak menyadari pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya. Sebuah pesan singkat dari nomer tak dikenal:

PERGI. SEKARANG.

§

Beberapa puluh meter di atas, di puncak gedung apartemen, tiga orang dengan seragam hitam menuruni tali yang terjulur dari sebuah helikopter. Bila bukan karena hembusan angin dari baling-baling dan beberapa lampu kilat di bagian depan dan belakang, tak akan ada yang bakal menyadari keberadaan obyek besar yang melayang-layang di atas bangunan itu. Ia bagaikan sebuah monster hitam dengan mata merah menyala, memuntahkan anak-anaknya ke dunia.

Orang-orang berseragam hitam itu bergerak perlahan dan penuh presisi. Tanpa suara, tanpa keraguan, bergerak menuju pintu darurat. Terdengar ledakan bersuara pelan dan diikuti asap tebal. Gagang pintu menghilang menyisakan sebuah lubang besar.

Mereka bergerak turun dalam satu barisan menuruni tangga. Bagai bayangan yang berkelebat, hilang seolah-olah sama sekali tak pernah ada.

 

Pintu elevator terbuka, di dalamnya ada sepasang muda-mudi. Mengenakan pakaian pesta, tertawa cekikikan, setengah mabuk. Nasib buruk, mereka keluar bersamaan dengan pasukan hitam-hitam itu memasuki lantai yang sama. Tawa mereka terhenti saat melihat orang-orang berseragam hitam bergerak di koridor.

Tak sampai dua detik peluru berkaliber kecil bersarang di masing-masing kepala mereka. Tanpa suara, tanpa noda, tanpa saksi. Salah seorang dari penyusup menggeret kedua mayat ke arah tangga darurat lalu berjaga-jaga di sana. Penyusup yang paling depan terus bergerak, sementara yang satu lagi mengawasi koridor.

 

Cairan asam pekat melumerkan mekanisme kunci pintu apartemen Prita. Seorang penyusup mendorong daun pintu perlahan. Pistol mengacung ke depan.

Dari arah pintu masuk, si penyusup dapat melihat Prita sedang sibuk menulis di papan tulis. Perempuan itu begitu terfokus, tak menghiraukan sekeliling. Si penyusup mengambil salah satu kursi di dekat meja makan. Dengan tenang ia duduk, menyilangkan kaki, dan meletakkan pistol ke dalam sarungnya.

“Selamat malam, Doktor Prita,” penyusup itu menyapa.

Prita terkejut. Tubuhnya terhentak ke belakang, menabrak tumpukan buku di meja. Dalam panik matanya mencari-cari sesuatu. Dengan sigap tangannya meraih ponsel.

“Letakkan ponsel Anda, Doktor.”

Saya akan menelepon polisi,” gertak Prita.

“Jangan menambah masalah.” Penyusup itu menepuk-nepuk pistolnya, memberi sebuah isyarat. Sebuah ancaman.

“Siapa kamu? Kau melanggar privasi. Saya minta kau pergi.”

Prita berusaha tenang, namun rasa takutnya sedikit demi sedikit mulai menggerogoti nalar.

“Bila kau ke sini untuk mencuri data, silakan ambil,” Prita menunjuk ke arah komputernya. Suaranya bergetar. “Tapi tolong jangan sakiti saya.”

Sayup-sayup terdengar musik dari pemutar piringan hitam. Ruangan temaram, hanya disinari beberapa lampu kecil. Kertas-kertas berserakan di atas meja.

“Kami ke sini bukan untuk data. Kami juga sudah mendapatkannya,” balas si penyusup tenang.

Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati dan mengamati papan tulis.

“Anda sudah menemukan banyak hal. Sepertnya lebih banyak dari para ilmuwan kami.”

Lelaki berpakaian hitam-hitam itu menunjuk sebuah skema di papan tulis. Tintanya masih basah.

Laut madu.”

Si penyusup melirik ke arah poster peta Bulan di sebelah papan tulis. Sebuah area di lingkari.

“Ya, tentu saja,” ia bergumam.

Ia berjalan ke arah sebuah skema. Tiga buah lingkaran dengan ilustrasi orbit dan perhitungan matematis. Prita melangkah mundur, berusaha menjauh.

Tiga matahari. Apa maksudnya, Doktor?”

Prita diam terpaku. Matanya basah. Wajahnya pucat.

“Doktor?” tanyanya lagi.

“Sistem bintang trinari,” jawab Prita pelan.

“Sirius?”

“Mungkin,” jawab Prita lagi. Suaranya lemah. Air matanya menetes di pipi.

“Kesimpulan yang menarik. Anda sungguh seorang ilmuwan brilian. Sayang sekali.”

“Apa maksu..”

Zap.

Sebutir peluru bersarang di kepala Prita. Menyisakan sebuah lubang kecil di dahinya. Letusan dari pistol berperedam itu nyaris tak bersuara. Prita jatuh terkulai tanpa nyawa. Ponselnya terbanting ke lantai.

 

“Target terterminasi,” ujarnya ke perangkat komunikasi di helm yang ia pakai. “Kirim regu ekstraksi masuk.”

Siap laksanakan, Kapten,” balas suara di perangkat.

§

Di sore hari, berita tentang pembunuhan di gedung apartemen muncul di media massa. Televisi menyiarkan secara langsung penyelidikan di lokasi. Garis kuning, tim forensik, dan wawancara dengan juru bicara kepolisian. Situs-situs berita menyebarkan tajuknya di media sosial, satu dua warganet melemparkan komentar. Sebagian penasaran, yang lain apatis. Wartawan, sesuai petunjuk dari pihak berwenang, melaporkannya sebagai bagian dari transaksi narkoba yang gagal.

Tak sampai setengah hari, beritanya pun pudar. Perhatian masyarakat telah tersita oleh hal-hal lain. Tenggelam oleh berita-berita lain dari seluruh pelosok planet, mengalir deras dengan kecepatan cahaya. Perang, pembunuhan, dan bencana. Manusia pasca internet telah kebal terhadap hal-hal seperti ini. Kematian tiga orang di sebuah gedung di kota besar bukan kabar baru. Semua kembali berjalan seperti biasa. Tiga buah nyawa melayang, sebuah pesan terhapus, dunia terus berputar.

     

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Foto oleh Alec Favale di Unsplash

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.