Lotere

Kilatan ratusan lampu mengaburkan pandangannya. Riuh rendah para penonton membuat kepalanya semakin pening. Sebagian bersorak-sorai, mengharapkan limpahan harta mendadak. Yang lain berteriak meminta sang algojo segera memutar Roda Nasib.

Ini hari yang istimewa. Ribuan orang rela mengantri berhari-hari untuk menyaksikan langsung. Dan kini mereka telah memenuhi arena tempat berlangsungnya acara utama. Sementara di luar arena, jutaan orang bersiap-siap di depan layar. Bahkan berjam-jam sebelum acara dimulai. Di rumah-rumah, di taman-taman, di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, di kuil, mesjid, dan gereja. Jalanan menjadi lenggang. Beberapa orang yang masih ada di jalan matanya menatap lekat layar gawai masing-masing atau pada layar-layar raksasa yang tersebar di berbagai penjuru kota. Mereka tak sabar ingin melihat bintang utama hari ini. Seorang pesohor akan menghadapi takdirnya.

Sang pesakitan, bintang utama hari ini, masih terdiam. Bukannya dia ada pilihan, seluruh kaki dan tangannya terikat erat. Dia hanya terkulai lemah, bersandar pada kursi, di atas panggung di tengah arena, disorot ratusan kamera. Kepalanya tertunduk. Tepat di belakangnya, sang roda nasib berdiri kukuh dan sombong, siap menguak nasib mereka yang cukup sial hingga harus berakhir di sini.

“Putar! Putar! Putar!” suara para penonton bergema memenuhi arena. Sang pembawa acara mondar-mandir di depan panggung, menyemangati penonton. Di bagian kiri dan kanan panggung utama, dua buah layar besar menunjukkan jumlah uang yang akan dihadiahkan pada pemenang utama. Angka fantastis yang belum pernah muncul di lima tahun sejarah berlangsungnya Lotere. Angka yang dapat membuat siapapun penerimanya hidup mewah berlimpah ruah seumur hidup. Bahkan mungkin hingga akhir zaman. Penonton semakin menggila.

§

Dua bulan sebelumnya.

Hendrik Yudhosasmito membuka pintu mobil yang terparkir di pelataran rumahnya yang luas. Sebuah tas kulit berisi beberapa dokumen disimpan di kursi penumpang, sebelum ia kembali menutup pintu. Wangi rerumputan yang baru dipangkas bercampur dengan eau de cologne saat laki-laki berusia empat puluhan itu melintas. Seorang tukang kebun menyapanya selamat pagi. Hendrik hanya melenggang acuh, terus berjalan ke arah meja yang tak jauh dari air mancur di tengah taman. Seorang pelayan baru selesai menghidangkan sarapan. Ia membungkuk saat melihat tuannya datang, lalu berjalan mundur kembali ke dapur.

“Kamu sepertinya terburu-buru,” ujar istrinya yang sedang menikmati secangkir kopi.
“Ya, tiba-tiba 1 jam lalu sekretaris kantor investor menelepon. Mereka ingin adakan pertemuan segera pagi ini, sebelum mereka berangkat ke Geneva.”
“Kamu kan sudah janji akan mengantar anakmu ke sekolah hari ini,” ujar perempuan itu lagi, datar.
“Biar dengan supir saja. Nanti malam aku akan belikan hadiah biar ia tidak marah,” jawabnya sambil menghabiskan sisa sereal di mangkoknya.
“Terserah,” jawab si perempuan pendek.

Hendrik menghabiskan minumannya dan segera bergegas berjalan ke mobil. Di kejauhan, di balik pagar tinggi yang mengelilingi rumahnya, ia melihat sesosok wanita tua. Rambutnya semrawut, wajahnya kotor, pakaiannya lusuh dan acak-acakan. Wanita itu menatap tajam ke arahnya.

Sial, mau apa orang gila itu kembali ke sini, umpatnya dalam hati. Ia berjalan cepat ke mobilnya, mencoba untuk tidak memedulikan si orang di balik pagar. Kalau bukan karena terburu-buru, Hendrik tentu akan segera memanggil dan menghukum para petugas keamanan di rumahnya. Ia sudah mewanti-wanti agar mereka segera mengusir wanita tua tersebut bila ia tertangkap oleh kamera pengawasan yang tepasang di seluruh sudut-sudut rumahnya.

Mobilnya berhenti sejenak, menunggu gerbang terbuka sepenuhnya. Saat itu lah tiba-tiba si wanita tua sudah berdiri di depan mobil. Menghalangi jalur. Selama beberapa menit ia hanya terpaku menatap ke arah Hendrik.

“Selamat pagi, tuan pengacara,” ujarnya.
“Minggir kau, perempuan keparat!” hardiknya sambil membunyikan klakson berulang kali. Wanita tua itu meludah. Ludahnya jatuh di kaca depan mobil, tepat di depan Hendrik.

Sundal, Hendrik mengumpat pelan.

“Minggir! Kalau tidak aku akan menabrakmu! Kau mau segera menyusul anakmu, nenek sialan?” “Kau ingin membunuhku, tuan pengacara?” tanya wanita itu dingin.

Hendrik menatap ke arah arloji di lengannya. Ia sudah terlambat. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Jalanan komplek yang lebar itu lenggang, tak ada kendaraan terlihat di kedua arah. Rumah-rumah tetangganya yang jaraknya saling berjauhan juga tidak memperlihatkan tanda-tanda ada orang. Diinjaknya pedal gas sambil membanting setir ke arah kiri.

“Aku akan mengirimmu ke neraka, perempuan celaka!”

Hantaman mobil melemparkan wanita tua itu ke tengah jalan. Suara hempasannya hilang ditelan pagi. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan. Si wanita tua tergolek lemas di tengah jalan saat mobil mewah Hendrik berderu kencang meninggalkannya.

§

Hendrik setengah berlari di lobi gedung milik para penanam modal. Di kejauhan pintu lift tampak mulai menutup. Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari, dan berhasil masuk ke dalam di detik terakhir.

“Bro, dari mana saja? Kami menunggumu hampir setengah jam di lobi,” seorang pria dengan setelan jas hitam bertanya padanya di dalam lift.
“Sori, ada sedikit masalah saat aku mau berangkat. Si tua keparat itu muncul lagi di depan rumahku,” jawabnya.
“Perempuan tua gila ibu si pemerkosa di Lotere bulan lalu?”
“Siapa lagi,” jawabnya ketus.
“Bukannya kau sudah melaporkan dia ke polisi?”
“Ya, beberapa minggu lalu. Para bedebah itu hanya sigap bertindak saat kita memberi insentif. Kau tahu sendiri kan,” ujar Hendrik, semakin kesal.
“Itu sebabnya kau sekarang rajin ke lapangan tembak? Jaga-jaga bila kau harus menembak bedebah tua itu?” tanya rekan wanitanya sambil tertawa.
“Ya. Kurasa ia sama gila dengan anaknya. Kalau tidak, mana mungkin seorang ibu membesarkan orang yang memperkosa belasan perempuan dan membunuh korban terakhirnya,” jawab Hendrik.

“Bagaimana kabar si pemerkosa itu?” tanya seorang kolega yang berdiri di sudut lift. Rekan-rekannya menatapnya dengan pandangan aneh. Apa pentingnya kabar terdakwa, pikir rekan-rekannya yang lain. “Hey, aku cuma penasaran,” tambahnya.
“Dia menjadi bahan uji coba toksitas berbagai senyawa pestisida. Kudengar ia sekarang lumpuh dari leher ke bawah serta mengalami kemunduran penglihatan progresif. Beberapa minggu lagi bajingan lumpuh itu akan buta total.”

Lift berhenti di lantai empat puluh lima. Seorang perempuan muda menyambut mereka. Hendrik dan para koleganya berjalan cepat, mengikuti sang sekretaris berjalan ke arah sebuah pintu besar di ujung lorong. Di balik pintu, di sebuah ruangan pertemuan luas yang dikelilingi oleh dinding-dinding kaca, beberapa orang telah menunggu. Para penanam modal. Pemilik perusahan yang dipimpin oleh Hendrik.

Lotere Inkorporasi berdiri di tahun 2023, hasil patungan dana serta ide dari Genedyne dan MCN. Genedyne adalah perusahaan multinasional di bidang kesehatan dengan pemasukan tahunan lebih besar bahkan dibanding beberapa negara maju. Mereka menjadi kaya raya dari obat-obatan, terapi gen, penyimpanan data pada materi biologis, dan rekayasa genetik. Sementara MCN adalah konglomerasi media terbesar di kawasan Asia Pasifik. Mereka menguasai stasiun televisi dan situs-situs berita utama di kawasan.

Beberapa tahun sebelum kelahiran Lotere (begitu masyarakat biasa menyebutnya), di tahun-tahun akhir dasawarsa kedua abad 21, perkembangan teknologi kesehatan semakin mengarah ke penelitian genetik. Laboratorium-laboratorium di seluruh dunia membutuhkan semakin banyak materi uji coba in vivo. Para aktivis internet dengan kekuatan jemarinya mampu menggiring konsumen untuk memboikot perusahaan-perusahaan yang masih menggunakan hewan sebagai materi uji coba laboratorium. Kebutuhan akan organisme hidup meningkat bersamaan dengan stok yang terus berkurang.

Sementara itu, masyarakat dihantui oleh meningkatnya ancaman kriminalitas. Internet dengan gesit menyebarkan berita-berita kejahatan. Portal-portal dan stasiun-stasiun televisi MCN terus menerus menyebarkan berita menakutkan. Berita-berita yang semakin meningkat dalam skala kekejaman. Semakin brutal isi sebuah berita, semakin tinggi peringkatnya di lembaga-lembaga survey. Tak ayal para pelaku kejahatan menyita perhatian utama masyarakat. Imbasnya, orang-orang mendayagunakan media sosial sebagai sarana untuk terus menerus menekan pemerintah agar memberikan hukuman yang semakin berat. Masyarakat pun lama-kelamaan beranggapan bahwa hukuman penjara hanya membuang-buang uang negara. Terutama bagi para pelaku pemerkosaan dan pembunuhan.

Lalu pada tahun 2022, sejarah mencatat sebuah gerakan di masyarakat yang dimulai seorang influencer media sosial sebagai pembuka jalan bagi lahirnya Lotere. Gerakan ini bertujuan untuk melegalkan peruntukan para penjahat sebagai organisme uji coba laboratorium. Desas-desus berhembus bahwasanya sang tokoh daring dibayar oleh MCN. Tetapi para pengikutnya menangkis tuduhan tersebut dengan menyebutkan bahwa perilaku kriminal yang semakin brutal mendorong lahirnya gerakan mereka.

Mengenai para pemerkosa, para pentolan gerakan mencoba menjelaskan bahwa hukuman kastrasi kimia yang telah dijalankan pemerintah sama sekali tidak efektif. Tidak memberikan efek jera yang dibutuhkan. Di lain pihak, penjara terus dipenuhi para pembunuh kejam. Para aktivis ini lagi-lagi berargumen, menjelaskan bahwa penjara adalah sebuah sistem mahal yang hanya menghabiskan uang negara. Uang yang didapat dari iuran pajak mereka, para warga negara yang taat hukum.

Maka lahirlah Lotere, sebuah reality show paling populer sepanjang sejarah penyiaran hiburan. Bintang utamanya, para terdakwa. Para pembunuh, pemerkosa, penculik; intinya, sampah masyarakat. Setiap bulan akan dipilih satu orang terdakwa yang nantinya dibawa ke arena utama. Menghadapi Roda Nasib, sebuah roda raksasa yang pada dua belas bagiannya tertulis dua belas macam uji coba laboratorium. Setiap awal bulan pula kedua belas “nasib” ini akan diumumkan ke masyarakat. Mulai dari yang paling ringan seperti uji coba toksisitas senyawa-senyawa baru, hingga ke uji coba mutasi gen, sampai ke tes radiasi senyawa radioaktif.

Salah satu pilihan terpopuler di antara para pemirsa setia Lotere tentu saja adalah uji coba virus. Terdakwa akan diinjeksi dengan vaksin eksperimental, lalu ia akan dimasukkan ke dalam ruangan isolasi transparan. Melalui kamera-kamera yang menyiarkan proses hukuman ke seluruh dunia secara langsung, para penonton dapat menyaksikan saat berbagai  galur virus seperti Hantavirus atau Ebola disemprotkan ke dalam ruangan.

Para terdakwa ini adalah hewan-hewan percobaan masa kini. Para bintang jenis hiburan terbaru yang menggabungkan hukuman dan kapitalisme. Mereka bagai para terdakwa di koloseum-koloseum Romawi dua ribu tahun lalu. Tetapi bila dahulu yang dihadapi para terhukum adalah singa-singa lapar, maka kini maut mikroskopis lah yang siap merobek daging mereka dari dalam.

Masyarakat pun berbondong-bondong ikut serta di perhelatan akbar ini. Setiap awal bulan loket Lotere dipadati oleh orang-orang yang hendak bertaruh. Mereka mencoba peruntungan dengan menebak jenis nasib yang akan menimpa para pesakitan. Tak hanya itu, orang-orang juga dapat bertaruh siapa terdakwa yang akan mendapat kursi utama di bawah Roda Nasib. Masyarakat dapat melihat riwaya para terdakwa, catatan kejahatannya, serta riwayat para korban (identitas asli disamarkan). Berdasarkan suara terbanyak dan proses eliminasi, setiap minggu terpilih kandidat yang akan menuju acara utama. Hadiah utama Lotere, yang sebagian disubsidi Genedyne dan MCN, akan diberikan pada orang yang berhasil menebak nama terdakwa sekaligus nasib yang menimpanya. Tertawa di atas penderitaan orang lain hanyalah sebuah ungkapan tak berarti bagi hedonisme jenis baru ini.

§

Sekitar pukul 8 malam, Hendrik Yudhosasmito, CEO Lotere Inkorporasi tiba di rumahnya. Sebuah bangunan bergaya art deco, dikelilingi taman yang luas, dengan sebuah kolam renang di bagian belakang. Hendrik dan keluarga mudanya tinggal di bagian kota yang jauh dari keramaian, sebuah wilayah suburban beberapa belas menit dari pusat kota, habitat para pesohor, crème de la crème megapolitan.

Ia memarkirkan mobilnya di pelataran tak jauh dari pintu utama. Tak seperti biasanya, lampu-lampu di bagian dalam rumah dalam keadaan padam. Hendrik menutup pintu mobilnya perlahan. Ia melihat sesuatu yang janggal, pintu utama rumah sedikit terbuka.

Hendrik berjalan pelan, mencoba untuk tidak membuat suara. Ia telah bekerja sebagai pengacara selama dua puluh tahun, membela banyak orang dan tidak semuanya orang baik-baik. Kewaspadaan sudah menjadi bagian dari dirinya. Hendrik mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik jas.

Pintu kayu besar itu berderik pelan saat Hendrik mendorongnya terbuka. Dalam kegelapan lengannya berusaha menggapai saklar pintu. Matanya pun terbelalak saat lampu ruang utama menyala. Anak dan istrinya terkulai lemas di sofa. Hendrik tidak dapat memastikan apakah mereka cuma pingsan atau sudah mati. Tetapi rasa cemasnya segera berubah menjadi kemarahan membara saat ia melihat wanita tua itu berdiri tak jauh dari keluarganya di bagian belakang ruang utama.

“Selamat malam, tuan pengacara,” sambutnya.
“Menjauh dari mereka, bajingan!” Hendrik menghardik. Pistolnya mengacung terarah ke dada si wanita tua.
“Kau merenggut anakku, sekarang aku akan mengambil keluargamu. Rasanya cukup pantas.”
“Keparat! Keluargaku tidak ada sangkut pautnya. Sementara anakmu pantas mendapatkannya. Dia seorang pemerkosa, pembunuh!”
“Diam!” wanita tua itu mulai hilang kesabaran. Tak gentar sedikit pun di hadapan moncong senjata. “Kau yang membuat anakku harus hidup dalam kelumpuhan, dalam kebutaan. Menjadi makhluk tanpa daya di sisa umurnya. Sementara kau menjadi kaya di atas penderitaannya.”

Wanita tua itu bergerak terpincang-pincang mendekati sofa.

“Berhenti! Kalau kau masih ingin hidup!”
“Hahaha… ingin hidup? Hidupku tak ada artinya, tuan. Kau ambil sekarang pun tidak ada bedanya. Sementara hidup anak dan istrimu…,” wanita itu memasukkan tangan ke balik mantelnya, merogoh sesuatu.

Sebuah letusan memecah keheningan. Wanita tua itu roboh di ruang utama kediaman Hendrik Yudhosasmito, tepat di depan anak & istrinya yang masih terkulai di sofa. Bercak merah darah membasahi putih karpet dan sofa.

Tembakan pertama menembus paru-paru kirinya. Ia terbatuk, darah segar meluncur deras dari mulut. Dengan sisa tenaga dan seutas nyawa ia mencoba merangkak ke arah keluarga sang pengacara. Tangannya mencoba mengeluarkan sesuatu dari balik mantel.

Dan kembali sebuah letusan menyalak mengoyak malam. Kali ini tepat di tengkuk wanita tua yang malang itu. Membunuhnya sesaat.

Hendrik membalikkan tubuh wanita itu, mencoba untuk memastikan bahwa ia telah tak bernyawa. Bahwa ia sudah tidak menjadi ancaman. Hendrik ingin tahu senjata yang disembunyikannya di balik mantel.

Saat tubuh itu terbalik, lengan tak bernyawanya terkulai. Di tangannya, alih-alih sebuah senjata, tergenggam sebuah kertas. Walaupun sebagian besar kertas itu telah terlumuri darah, Hendrik masih dapat mengenalinya. Sebuah tiket Lotere. Dan yang membuat darahnya berdesir, pada tiket itu terdapat sebaris tulisan: “Selamat, tuan pengacara. Anda sekarang seorang pembunuh.

§

Dua bulan kemudian.

Proses persidangan berlangsung cepat. Pembelaannya yang didasarkan pada alasan bela diri tak diterima juri. Menurut hakim, ia dan keluarganya tak pernah ada dalam bahaya. Korban pun sama sekali tidak memiliki catatan kejahatan. Hidupnya bersih, seorang tokoh masyarakat yang disegani. Penuntut mengajukan bukti rekaman video yang memperlihatkan ancaman pembunuhan yang dilontarkan sang pengacara pada korbannya, serta saat Hendrik dengan sengaja menabraknya. Dan sebagai penutup dakwaan, hasil visum yang tanpa keraguan memperlihatkan tembakan berdarah dingin di tengkuk korban. Statusnya disegel dengan ketokan palu, ia resmi seorang pembunuh.

Masyarakat yang kecanduan kekejaman menggila saat mereka mengetahui bahwa pemimpin Lotere sendiri yang akan maju menghadapi Roda Nasib. Sang tokoh media sosial yang tagarnya memulai gerakan uji coba pada para terpidana. Segera ribuan orang terlibat perang kata-kata di internet. Pro dan kontra berlanjut selama berhari-hari.

Sementara itu penjualan tiket mencapai rekor tertinggi. Peringkat acara televisi dan situs berita terkait acara Lotere meroket. Masyarakat sudah mencium bau darah segar. Mereka tak akan berhenti hingga sang korban tercabik-cabik di depan kamera.

Di antara kilatan cahaya dan riuh rendah pengunjung arena, Hendrik mencoba menghadapi takdirnya. Ditatapnya orang-orang yang ada pinggir panggung utama. Di sana ia melihat para petinggi Genedyne dan MCN, para atasannya, para pemilik acara hiburan terbesar di dunia. Tak jauh dari situ ia dapat melihat rekan-rekannya di Lotere Inkorporasi. Wajah mereka dingin tanpa ekspresi.

Pandangan Hendrik berputar. Suara-suara bising itu bagai menghujam langsung ke dada. Orang-orang terus berteriak, “Putar! Putar!”. Sementara yang lain berteriak “Virus! Virus! Virus!”.

Pembawa acara kini berdiri di tengah panggung, tepat di hadapannya. Hendrik telah melihat prosesi ini puluhan kali selama bertahun-tahun ia memimpin Lotere. Langsung dari depan panggung, di kursi kehormatan. Biasanya ditemani segelas Chianti dan cerutu Kuba. Bersenda gurau bersama para petinggi dan pemilik Lotere, membahas nasib yang akan menimpa bintang utama mereka.

Tetapi kini ia ada di posisi terbalik. Sekarang ia lah sang bintang utama. Pesakitan yang sebentar lagi dalam penderitaannya akan menjadi hiburan bagi orang banyak. Yang nyawa dan nasibnya akan menjadi bahan tawa canda jutaan orang. Hendrik Yudhosasmito hapal prosedur Lotere di luar kepala. Ia tahu persis ini saatnya bagi sang pembawa acara untuk memanggil algojo sang pemutar roda, Roda Nasib yang akan menghapus keberadaannya dari muka semesta. Di antara riuh rendah itu ia dapat mendengar wanita tua yang ia lubangi batang otaknya, “selamat datang di neraka”.

Selfie

Matahari sudah tinggi, satu dua bulir keringat membasahi dahi. Perutku mulai berisik. Efek tiga biji pisang goreng yang kulahap beberapa saat lalu sudah pudar. Kalau bukan karena janji makan siang dengan Karina aku tentu akan mencomot beberapa biji pisang goreng lagi. Mungkin beberapa comro juga.

Lima belas menit sudah aku berdiri di halte angkot tanpa hasil. Belum ada satu pun mobil-mobil berplat kuning itu yang lewat di jalanan lebar namun sepi ini. Beberapa mobil berplat hitam lalu-lalang, penumpangnya menatapku dengan tatapan penasaran. Bukannya aku tidak mau menggunakan monorel, yang stasiunnya cuma berjarak beberapa ratus meter dari halte ini, tetapi intelejensi buatan di ponselku menyatakan dengan tegas,- memaksa sebenarnya-, ini pilihan jalur paling tercepat ke kosan Karina. Mungkin aku telah salah melatihnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dari kejauhan aku melihat sebuah angkot mendekat. Lajunya stabil lagi santai. Sialan, sudah menunggu lama, kebagian angkot yang jalannya lambat. Yang seperti ini biasanya juga gemar berhenti. Ngetem menunggu penumpang yang seringkali tak pernah muncul.

“Kang, Majalaya, Kang?” ujar kenek itu dari kejauhan, bergelantungan di pintu samping. Angkotnya mengerem perlahan, moncongnya berhenti tepat di depanku.

Cuma ada dua orang penumpang lain di dalamnya. Firasatku buruk. Angkot ini pasti bakal terus-menerus ngetem di setiap simpang dan gang.

“Mangga, Kang. Tidak akan ngetem-ngetem, Kang.” Dia bagai membaca pikiranku. Aku juga sebenarnya tidak punya pilihan. Menunggu angkot berikutnya hanya akan membuang lebih banyak waktu.

Belum sampai bokongku menyentuh jok, angkot sudah mulai bergerak. Untung akselerasinya cukup halus, diferensial percepatannya tidak terlalu terasa. Kalau tidak aku pasti sudah terjengkang. Kualihkan pandanganku ke arah kursi supir, dengan niat hendak memelototi mukanya. Sayang, kursi itu kosong, tidak ada siapa-siapa.

“Punten, Kang. Piranti lunaknya masih baru. Belum mengenal medan. Baru juga diinstal kemaren,” lagi-lagi si kenek dapat membaca benakku, menyadari kekesalanku pada si supir. Aku cuma tersenyum kecut.

“Sebelumnya saya sendiri yang nyetir, sekaligus jadi kenek,” dia kembali berbicara. Ia masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan, tak terlalu jauh dariku. Wajahnya berseri-seri, tak terpengaruh kulit muka yang kasar, yang dihajar matahari, angin, dan debu sepanjang hari pun malam.

“Melelahkan ya, Mang?” tanyaku, sedikit berbasa-basi.
“Iya, Kang. Kata istri saya, mobil angkotnya diganti yang swasetir saja. Harganya tidak terlalu beda, lebih aman, dan saya juga tidak terlalu capai. Jadi bisa mengerjakan hal-hal lain,” jawabnya dengan senyum tersungging di bibir. Tampak ia begitu bangga akan istrinya.
“Keren, Kang,” sambungku singkat.
“Mengikuti perkembangan zaman atuh, Kang.”

Angkot terus bergerak menyusuri jalanan yang menghubungkan daerah kampusku dengan daerah perumahan di selatan. Penumpang-penumpang yang lain tak menggubris percakapanku dengan kenek angkot. Mereka larut dalam gawai VR masing-masing.

“Pulang kuliah, Kang?” tanya si kenek.
“Iya,” jawabku singkat. Mataku memandang jauh ke depan. Berharap angkot ini dapat bergerak lebih cepat.

Aku melirik jam tanganku. Lalu melihat peta di ponsel. ETA 20 menit. Secara reflek aku mengacak-acak rambutku sendiri.

“Janjian sama kabogoh, Kang?” tanya si kenek dengan senyum jahil. Entah orangnya usil atau memang kepo, atau cuma bosan saja karena tidak ada yang bisa dia ajak ngobrol sepanjang perjalanan.
“Bukan. Janjian dengan teman, Kang.”
“Oooh… teman,” jawabnya masih dengan senyum jahil. “Pedekate ya?”
Sial ini orang penasarannya kebangetan.
“Ya begitulah, Kang,” jawabku. Daripada disindir lagi, lebih baik jujur sekalian.

Seolah Tuhan menjawab doaku agar si kenek berhenti menginterogasi, sistem AI angkot memberi sinyal bahwa tujuanku sudah dekat. Sistem kendali angkot segera mengarahkan mobil ke sisi kiri jalan. Setidaknya AI ponselku masih ada gunanya, dia punya inisiatif untuk mengakses OS angkot dan menandai GPS tujuanku di sistem navigasinya.

“Wah saya sudah hampir sampai, Kang,” ujarku sambil membuka tas, hendak mencari dompet. Seperti kisah cintaku, isi tasku berantakan. Berbagai buku, gawai, alat tulis, komik, bertumpuk-tumpuk tak teratur. Dan semakin diperparah oleh bungkusan permen coklat besar dengan pita warna merah jambu di dalam tas, menyulitkan manuver tanganku yang meraba-raba mencari dompet.

“Ciye… si Akang mau kencan.”

Ahelahkenapa sih ini orang, aku mendumel dalam hati. Aku segera menutup kembali tas sesaat setelah dompet berhasil ditemukan. Kukeluarkan sepotong kartu plastik dan menyodorkannya ke si kenek.

“Duh… punten, Kang. Ada uang tunai tidak? EDC angkot saya sedang eror. Tadi pagi waktu saya keluar dari terminal terdengar ada suara kegusruk di bagian atas, di bagian peralatan komunikasi sepertinya,” ujarnya dengan wajah sedikit memelas.
“Lah… saya tidak bawa uang tunai, Kang. Bagaimana dong?” Ada-ada saja masalahku hari ini. Mana tujuan sudah mendekat. Dan aku juga telat.

“Kalau akun PayPal ada tidak, Kang?”
“PayPal? Memangnya angkot Akang sudah bisa terima?”
“Bukan buat bayar angkotnya, Kang. Akang cukup menyumbang di kampanye Kickstarter saya saja,” senyumnya kembali mengembang. “Tidak perlu banyak, cukup sesuai dengan tarif angkot saja. Kalau mau lebih juga mangga saya mah,” sambungnya terkekeh. Orang ini penuh kejutan.

“Memang kampanyenya apa, Kang?” tanyaku sambil membuka app Kickstarter di ponsel.
“Saya hobi bikin robot, Kang. Saya sedang membuat robot untuk misi eksobiologi di Mars. Saya sudah berhasil ngebuking tempat di roketnya SpaceX untuk peluncuran tahun depan. Robot saya sendiri sekarang masih ada sedikit masalah dengan sistem sensornya. Tahu sendiri meureun, Kang. Lingkungan Mars kan berbeda dengan di Bumi, jadi saya kudu menggunakan banyak algoritma simulasi,” jelasnya berapi-api.

Aku mulai berpikir laki-laki ini jadi kenek angkot semata-mata karena hobi.

“Hmm, saya pernah membantu dosen mengembangkan sistem sensor ekstra-terestrial. Saya bisa membagi beberapa informasi telemetrinya, kalau Akang berminat.”
“Wah! Mau sekali atuh, Kang!” serunya. Matanya berbinar-binar. “Ini kartu nama saya,” sambungnya cepat, menyadari bahwa angkot sudah mulai melambat, dan aku sudah tiba di tujuan.

Aku menempelkan kartu nama itu ke ponsel. Segera setelah datanya terekam aku menyimpannya ke dalam saku kemeja dan bersiap-siap untuk turun. Ia hanya memandangiku saja dengan terus tersenyum. Bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan gawai pertamanya. Sebuah notifikasi data kontak baru muncul di layar ponselku.

“Baiklah, Kang…,” aku melihat kembali nama di layar, memastikan aku tidak salah membaca,”…Kang Selfie. Nanti saya hubungi via email. Terima kasih sudah atas tumpangannya.”
“Haha…,” ia tertawa menyadari kekikukanku, “iya, itu hobi ibu saya dahulu, Kang. Makanya saya diberi nama begitu. Siap, Kang! Diantos email-nya.”

Aku melambaikan tangan, memberi salam perpisahan, sembari menatap angkot itu menjauh, menghilang dari pandangan. Kang Selfie masih terus membalas lambaianku, penuh semangat, dengan senyum lebar, dan sambil terus bergelantungan di pintu angkot. Begitu banyak orang menarik di dunia ini pikirku.

 

Keterangan

  1. Swasetir: self-driving
  2. VR: Virtual Reality
  3. ETA: Estimated Time of Arrival
  4. Kabogoh: pacar
  5. OS: Operating System
  6. GPS: Global Positioning System
  7. EDC: Electronic Data Capture, mesin untuk membaca kartu kredit/debit
  8. Eksobiologi: exobiology, ilmu tentang makhluk hidup di luar Bumi
  9. Meureun: mungkin
  10. Diantos: ditunggu

Waskat

“Kita cuma menambahkan satu kolom saja,” ujar laki-laki yang dengan rokok di tangannya. Tangannya yang satu lagi merogoh saku, mencari korek.

“Kau yakin ini bisa kita jalankan?” tanya sobatnya yang sibuk memainkan pena.

“Sudah mulai pikun rupanya. Kau dahulu tim informasi program serupa. Penyedia strategi yang paling kami andalkan di lapangan,” ia menyalakan korek gas berlapis perak dengan sebuah simbol terpatri di sisi-sisinya. “Ingat kau, di zaman tidak ada orang yang berani menyentuh kita?”

“Sial. Tentu aku masih ingat. Tetapi zaman berubah, bung.”

“Tentu, zaman berubah. Target kita pun berubah. Bertambah pintar, bertambah kaya. Tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah berubah,” ia menghisap rokoknya dalam-dalam, “mereka masih tetap mudah ditakut-takuti.”

Laki-laki itu menekan-nekan tombol di ujung penanya. Matanya menatap lekat kertas-kertas di depannya. Beberapa peta, dokumen-dokumen di dalam map, dan buku catatan. Bagaikan elang mencari mangsa di luasnya padang, di antara rerumputan tinggi, pandangannya bergerak menyisir. Pembawa kematian dari langit yang sanggup menerkam tanpa tanda-tanda. Selama puluhan tahun ia berkarir, satu hal yang amat ia banggakan adalah kalkulasinya yang tak pernah salah. Eksekusi, itu keahlian sobatnya.

“Yang paling indah dari rencana ini adalah ia bagai hadiah yang jatuh dari langit. Kita berdua tak mungkin bisa mewujudkan ide yang mengawali ini semua. Sarana bagi warga untuk saling mengawasi di antara mereka sendiri dan melaporkannya pada aparat. Durian runtuh,” laki-laki itu terkekeh. Tawanya sedikit terganggu oleh batuk akibat asap rokok. “Dan tiba-tiba program ini begitu saja tersedia, untuk kita eksploitasi.”

“Ya, orang-orang malang itu tak pernah bisa melihat potensinya. Bahayanya.” Sebuah senyum kecil di wajahnya, hampir tak terlihat, “tidak seperti kita.”

“Program ini dicanangkan oleh sang sosok idola. Tak ada mereka merasa perlu untuk melihat kelemahannya.” Laki-laki dengan rokok itu cuma tersenyum, khawatir tawa lepas akan membuatnya kembali terbatuk-batuk.

Laki-laki berpena kembali mencoret-coret buku catatannya, menandai beberapa poin. Sikap obsesif, selalu membuat daftar untuk apa saja, telah beberapa kali menyelamatkan lehernya. Dalam bidang pekerjaan ini, ia berpikir, persiapan adalah kunci. Walau usianya sudah melewati masa senja, saat kematian karena pekerjaan berkemungkinan jauh lebih kecil, ia tetap setia pada kebiasaan itu.

“Kita tidak memiliki sumberdaya sebanyak dulu. Kita harus memanfaatkan elemen-elemen populasi,” laki-laki itu mematikan rokoknya di asbak. Ia harus sedikit menekan puntung, permukaan asbak dipenuhi oleh abu.

“Tentu. Laporan dari timku di lapangan memperlihatkan banyak potensi yang bisa kita manfaatkan. Beberapa dari mereka bahkan telah memperlihatkan kecenderungan militansi. Pemuda-pemuda pengangguran dengan delusi grandeur, pensiunan-pensiunan tua dengan sindrom pasca-kekuasaan, mereka akan mudah menerima doktrinasi yang sudah kita siapkan.” Ia membolak-balikan halaman, lalu menulis catatan-catatan singkat di bukunya. “Aku sudah punya beberapa nama kandidat. Mereka akan melakukan apa saja. Apa saja demi merasakan segenggam kekuasaan atas nasib orang-orang yang tidak mereka sukai. Apakah itu atasannya di kantor, saingannya dalam percintaan, atau sekedar tetangga yang menyebalkan.” Ia meraih gelas berisi kopi yang tinggal setengah di ujung meja. “Penjahat akan dengan senang hati menggunakan patriotisme sebagai alasan atas perbuatannya.”

Sobatnya menyalakan sebatang rokok baru, “lengkap kalau begitu. Kau tinggal mengirimkan draf Rapor Perilaku dan Sikap Warga Negara terbaru ini ke anak buahmu, dan kita akan berlanjut ke fase dua.”

“Apakah kau hendak menambahkan sesuatu ke kalimat di kolom terbaru ini?”

“Coba kulihat,” ia merogoh kacamata di saku kemeja. “‘DICURIGAI MEMILIKI AKTIVITAS BERALIRAN KIRI‘. Hmm, aku rasa ini sudah bagus. Jangan membuatnya terlalu kompleks. Segmen target kita bukan orang-orang lulusan sekolah di luar negeri, hahaha…” ia kembali terkekeh, kali ini diikuti batuk-batuk berkepanjangan. Tapi wajahnya menunjukkan kepuasan.

§

Beberapa tahun kemudian, mereka yang masih berkesempatan untuk bercerita, sepakat bahwa itu adalah awal dari petaka yang melanda. Bola api yang telah lama padam sengaja kembali digulirkan. Awalnya, penangkapan-penangkapan berdasar aduan menjadi hal yang dibicarakan khalayak ramai. Stasiun televisi & situs berita tanpa henti menyiarkan mereka yang mendapatkan rapor merah. Para pengamat politik karbitan di media sosial berlomba-lomba mengajukan teori-teorinya.

Tapi lama-kelamaan mereka bosan. Penangkapan-penangkapan menjadi hal yang lumrah. Setiap hari, dari sudut-sudut ladang pedesaan, di bawah bayang-bayang gedung perkotaan, muncul pengaduan-pengaduan baru. Awalnya mereka yang dilaporkan bisa dibilang ‘beruntung’, karena bisa sampai ke sel-sel pihak yang berwenang. Tetapi rasa takut yang menjalar, akan adanya hantu jahat yang bersemayam di tengah-tengah masyarakat, terus membesar bagai bola salju. Menjadi-jadi bagai bara tertiup angin. Histeria, paranoia, orang-orang pun hilang akal, hilang rasio. Mereka semakin mudah diarahkan, digerakkan, dikendalikan.

Rasa takut bermuara pada kebencian. Dan kebencian dengan mudah melahirkan kebiadaban. Pengaduan-pengaduan tak lagi menghasilkan penyakitan baru untuk bersemayam di balik jeruji besi. Pengaduan-pengaduan kini sekedar menjadi aksi pembukaan untuk hajatan besar, arak-arakan massa. Tak butuh waktu terlalu lama untuk jalanan kembali dibasahi oleh darah kering yang menghitam. Membuat udara sesak oleh bau daging terbakar. Membuat hanya gagak yang rela hinggap di pepohonan, berlomba mematuk secuil daging dari sosok-sosok hantu yang menggantung di dahan-dahan seluruh negeri.

Bhairava di Hutan Swarnadwipa

Bukit Seguntang, Abad 8

Matahari berada tepat di atas kepala. Para pedagang dan musafir lalu lalang di jalan raya yang menghubungkan ibukota dan jalur utara. Pedati dan gerobak berbagai ukuran dengan berbagai macam muatan melintas tanpa henti. Sebagian besar dari mereka bergerak menuju pelabuhan besar di sungai Musi.

Seorang pemuda berjalan memasuki sebuah warung di tepi jalan. Ia datang dari arah kota. Caping lebar di kepala melindunginya dari terik matahari. Sepotong kain menutupi wajah. Sebuah bungkusan besar di punggungnya. Di pinggangnya ia mengenakan sebuah sabuk kulit dengan banyak kantung, berisi beberapa benda-benda yang tidak lazim. Pakaiannya pun sedikit berbeda dari orang-orang di sini. Beberapa dari mereka yang berpapasan di jalan menatapnya dengan curiga dan rasa penasaran.

Ia mengambil tempat di seberang dua orang laki-laki yang sedang menikmati minuman. Sebilah keris terselip di pinggang laki-laki yang lebih tua. Sebuah codet melintang di wajahnya. Sementara di sebelahnya seorang laki-laki sepantaran si pemuda. Sebatang tombak dengan bilah baja besar bersandar di sisinya.

“Nasi dengan ikan terbaik di sungai Musi,” ujar pemuda itu pada pemilik warung. Tanpa berkata-kata ia berjalan keluar.
“Kabarnya Gangga memiliki ikan terbaik,” laki-laki berkeris yang duduk di seberangnya membalas tanpa menolehkan wajahnya ke arah pemuda. Ia hanya menenggak minuman di depannya.
“Hanya bila Kali mengizinkan,” jawab si pemuda.

Kedua laki-laki yang sedang menikmati minuman itu berdiri bersamaan, bagai menerima aba-aba. Si laki-laki tua meletakkan sekeping koin logam di meja dan bergegas keluar dari warung. Si pemuda bergeming di tempatnya. Tak berapa lama si pemilik warung kembali dengan sebungkus nasi. Terselip secarik lontar di dalamnya. Pemuda itu menganggukkan kepalanya, berterima kasih, lalu ia pun berjalan keluar.

§

Si pemuda berjalan ke arah pinggiran sungai. Di kejauhan tampak beberapa kapal merapat di sisi pelabuhan ibukota Srivijaya. Dua orang laki-laki tadi telah berdiri menunggu di bawah bayang-bayang pohon kelapa. Si pemuda bergerak mendekat. Ia berdiri di samping mereka, menghadap ke arah sungai.

“Jadi sekarang mereka mengirim pustakawan untuk tugas-tugas seperti ini,” Arya si laki-laki tua membuka percakapan.
“Aku yang menemukan lokasi mereka. Iskandariya merasa perlu mengirimku untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di sini,” jawab Farhad, si pemuda pustakawan.
“Kenapa, mereka sudah tidak percaya padaku?” balasnya.
“Anda sangat dihormati di kawasan ini, tetua. Kedigdayaan anda sebagai telik dan prajurit telah sampai ke aula-aula Para Penjaga. Saya semata-mata mengikuti perintah,” jawab si pemuda, nada bicaranya menunjukkan rasa hormat yang tulus.
“Berwindu-windu aku memimpin di wilayah ini, tidak sekalipun aku gagal. Tidak pernah sekalipun aku kehilangan prajurit.”
“Saya dapat menjaga diri bila itu yang anda khawatirkan.”
“Dengarkan aku, pemuda. Di sana kamu akan menuruti setiap perintahku. Aku tidak peduli bila Pallas sendiri yang mengirimkanmu, di pertempuran aku yang memimpin. Simak setiap perkataanku dan kamu akan tetap hidup.”
“Tentu saja, tetua,” jawab pemuda itu.

§

Ketiga laki-laki tersebut berjalan menembus hutan Swarnadwipa yang lebat. Cahaya bulan purnama bersinar melalui celah-celah pepohonan. Hewan malam bersahut-sahutan. Wangi cendana memenuhi udara.

“Kita sudah dekat,” ujar Arya. Di hadapannya berdiri sebuah patung kayu. Patung perempuan telanjang bertangan delapan. Di leher patung tersebut terlilit sebuah kalung dengan belasan jari-jemari manusia. Sebagian tampak masih mengeluarkan darah.

“Teryata kabar itu benar adanya. Padahal kukira para pengikut Bhairava sudah punah,” ujar Lawi, pemuda bertombak.
“Semua juga berpikir seperti itu. Hingga beberapa bulan lalu saat aku menemukan beberapa hal aneh dari laporan Para Penjaga di Sri Ksetra,” jawab Farhad.
“Lantas apa yang membangkitkan mereka?”
“Para telik yang kita kirimkan ke sana mengatakan bahwa mereka berencana membebaskan Bhairava.”
“Apa? Apakah kamu gila, pustakawan? Tidak ada yang dapat kabur dari Shambhala,” ujar Lawi.
“Iskandariya tidak berpikir begitu. Kami mengetahui bahwa di dalam hutan Swarnadwipa tersimpan pusaka Bhairava yang terkubur sejak masa-masa Perang Besar.”
“Pusaka macam apa yang mampu membuat mereka berani mendekati gunung-gunung suci?”
“Aku juga tidak tahu. Tetapi Iskandariya tidak mau mengambil resiko.”

Di bawah sebuah beringin raksasa tiba-tiba langkah mereka terhenti. Arya memberi isyarat untuk diam di tempat. Mereka dapat merasakan kehadirannya. Angin berhenti bertiup, tiada suara dedaunan bergesekan. Bahkan suara serangga pun sirna. Sunyi senyap, seolah-olah seluruh hutan menjadi bisu.

Lawi mengambil posisi kuda-kuda, lengannya erat memegang tombak pada posisi tarung. Arya mengeluarkan keris. “Pustakawan, kamu bisa bertarung?” tanyanya.
“Jangan khawatirkan aku, tetua,” jawabnya.

Farhad mengeluarkan dua bilah pedang pendek. Gagang-gagangnya tampak tersambung dengan seutas tali ke sebuah piranti di punggungnya. Dengan sebuah gerakan, tiba-tiba bilah-bilah pedangnya menyala bagaikan diselimuti petir-petir kecil.

Hutan yang senyap telah berubah ramai. Pekikan menggema di mana-mana. Suaranya nyaring, bagaikan teriakan perempuan penuh dendam dan amarah. Sudah jelas bagi Para Penjaga berpengalaman seperti mereka, para musuh di kegelapan ini bukanlah manusia biasa.

“Bersiaplah.”

Sebuah Bab Kehidupan

“Ada masalah dengan mesinnya?”
“Sepertinya, bro.”
“Bisa lu handle kagak?”
“Santai…”

Aku melanjutkan memeriksa mesin. Tampaknya bukan masalah besar. Kucoba membersihkan salah satu busi lalu memasangnya kembali. Kubersihkan tangan yang belepotan dengan oli ke celana jinsku.

“Wah parah…”
“Haha… tenang. Guwa bawa ganti kok.”

Ya, benar. Sekarang mesin sudah bisa dijalankan. Kuputar kunci ke arah off, mematikan mesin kembali. Kuraih rokok dan korek yang ada di dashboard. Aku berjalan ke arah bangku yang berada tak jauh dari tempat mobilku terparkir.

Tempat ini berada di pinggir tebing yang menghadap ke arah lembah. Sebidang tanah yang menjorok keluar dari tikungan, lebarnya sekitar lima meter dari pinggir jalan raya. Dari sana sepanjang mata memandang hanya ada hijau pepohonan. Awan di kejauhan masih menyisakan rona-rona merah sisa fajar yang menyingsing. Aku meregangkan badan di bangku itu, mencoba mengusir pegal-pegal setelah menyetir sejak tengah malam. Kunyalakan sebatang rokok. Kuhirup dalam-dalam asapnya. Wangi cengkeh beradu dengan embun pagi.

“Pas bener sih ngambil lokasi mogoknya mobil lu…”
“Ya, udah sehati guwa ama mobil yang ini,” jawabku sekenanya.
“Halah… kebiasaan nyepik cewe, mobil elu sepik juga.”
“Kan elu yang ngajarin guwa nyepik, men… haha”

“Guwa jadi inget jaman kuliah, pas mobil yang elu setirin terguling masuk jurang. Elu lagi mabok atau begimana sih dulu?”
“Tau tuh, men. Kayaknya sompral sih guwe pas masih di atas gunung. Guwe masih inget kejadiannya. Waktu itu mau belok kiri ke arah jembatan. Entah kenapa guwe ngambil terlalu kiri. Pas guwe nyadar ban belakang terperosok, tau-tau mobil udah keguling-guling,” aku menggelengkan kepala sambil tersenyum getir.
“Ah… elu mikirin cewe paling. Keliatan dari muka elo waktu guwa ama anak-anak ngeluarin elu dari mobil. Hahaha…”
“Geblek…,” suara tawa memecah pagi yang sepi.

Kulepaskan jaket di tubuh. Udara mulai menghangat bersama matahari yang beranjak meninggi.

Kadang dalam hidup, perubahan besar terjadi begitu cepat. Sepersekian detik, semua pun berubah,” aku menyelipkan rokok yang mulai memendek ke bibir dan menghisapnya dalam-dalam. “Dan terkadang, perubahan tersebut merenggut segala kesempatan. Untuk melakukan yang belum sempat dilakukan. ‘Tuk mengucapkan yang belum terucap. Dan kesempatan untuk melihat apa yang ada di depan sana.

Aku membuang puntung ke tanah dan menginjaknya. Baranya redup, hingga hanya asap yang tersisa. Asap yang melebur bersama embun.

§

“Oy!”
Aku menoleh ke arah sahabatku, “ape?”
“Ngelamun aja lu. Setel musik kek, daripada ngelamun begono. Perjalanan masih jauh kan?”
“Iye iye…”

Aku menyalakan pemutar musik di mobil.

“Radio coba, radio.”
“Di pegunungan gini mana dapet siaran radio. Ntar kalo udah masuk kota berikut sebelum turunan, baru dapet sinyal.”
“Yowis, mp3 aja lah. Daripada guwa ikut-ikutan bengong ngeliat elu bengong.”
“Kalem…”

Kutekan tombol play. Sebuah lagu dari masa lalu berkumandang di dalam mobil.

“Ah, kita kan dulu pernah ngebawain lagu ini pas manggung di kampus dulu.”
“Yoi! Aksi panggung band kita kan paling ditunggu adek-adek mahasiswi junior,” jawabku antusias.
“Ah banyak gaya lu… jelas-jelas elu dulu kagak berkutik setiap ada si Bianca!” ejek temanku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Haha… elu tau sendiri lah,” jawabku dengan tawa lepas. Masa kuliah kita memang menyimpan banyak momen lucu dan menyenangkan, bung.

“Ngemeng-ngemeng, si Bianca kenapa kagak ikut?”

Aku terdiam sejenak, mencoba memikirkan jawaban yang tepat.

“Masih sedih kayaknya, bro,” jawabku datar, mencoba meredam emosi.
“Ah, padahal guwa juga pengen ngobrol-ngobrol ama bini lo,” aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Ntar lah, lain waktu. Nanti juga dia bakal main berkunjung,” jawabku.
“Dulu jaman masih kerja di kantor yang lama, guwa suka nyusahin elu ama si Bianca. Ikut nginep di tempat elu.”
“Halah… basa-basi banget sih lo, men,” aku mencoba mencairkan suasana.
“Beneran. Guwa kagak enak aja. Soalnya kalo di mess kantor guwa suka bosen.”
“Ya iya lah. Santai aja lagi. Guwa ama Bianca seneng banget kalo elu nginep di rumah kita. Bisa ngobrol-ngobrol ampe malem, nongkrong di kebun belakang ngebahas masa-masa kuliah,” jawabku dengan senyum mengembang. Sahabatku satu ini memang selalu dapat menghidupkan suasana. Candanya selalu dapat membuat orang-orang di sekitarnya terpingkal-pingkal.

“Guwa ama Bianca bakal kangen banget hangout ama elu lagi, men.”

Mobil terus melaju ditemani lagu-lagu nostalgia. Pengingat akan suatu masa yang telah lewat dan tak mungkin dapat terulang.

§

Senja menyambut kedatanganku. Angin bertiup sunyi. Tanah masih becek oleh hujan yang baru reda. Tempat itu berada di tak jauh dari laut. Debur ombak dan suara burung camar samar-samar terdengar di kejauhan. Aku memasuki gerbang pemakaman.

Beberapa karangan bunga masih tampak berdiri berjajar di sekitar pagar. Dari kejauhan aku melihat timbunan tanah yang masih baru. Tebaran petal mawar dan melati masih tersisa di atasnya. Aku berjalan ke sana. Aku berhenti di depan pusaramu.

“Sejujurnya guwa masih belum bisa percaya. Rasanya bagai mimpi, semua begitu tiba-tiba.”

Aku berlutut untuk menyentuh nisanmu. Kau masih begitu muda.

“Guwa inget, selama hidup, elu selalu bisa membuat orang tertawa. Guwa yakin gak ada orang yang bisa benci ama elu. You are always the light of the party. You’re like this endless stream of happiness, man. Mungkin itu sebabnya elu dipanggil begitu cepat. Bekel elu untuk surga udah cukup.”

Aku mengusap air mata yang mulai deras mengalir.

“Andai elu tahu betapa banyak orang yang kehilangan. Teman-teman lu sayang banget ama elu, men. Guwa bisa lihat, di balik kesedihan anak-anak dan istri elu, mereka bangga betapa banyak orang yang juga menyayangi orang yang selama ini sangat mereka sayangi.”

Langit semburat jingga. Angin senja berhembus menebarkan semerbak bunga-bunga.

“Guwa akan selalu ingat pesan singkat elu di messenger, beberapa hari sebelum elu pergi. Ceria dan penuh perhatian. Kesan yang juga membekas di semua orang yang ditinggalkan.”

Aku menundukkan kepala, memanjatkan doa. Dahulu, begitu banyak tawa yang kau berikan pada orang-orang di sekelilingmu. Begitu banyak waktu yang kau sediakan bagi kami untuk bercerita, berkeluh kesah. Sekarang tinggal doa yang mampu kami panjatkan. Kami berharap, dan percaya, kau akan baik-baik saja di sana.

Hidup menyimpan banyak kisah. Beberapa berakhir terlalu cepat, mengingatkan manusia akan rapuhnya dunia. Tetapi kisah-kisah indah selalu bertahan dalam benak.

“Elu akan selalu menjadi cerita yang kami kenang. Kami semua bangga pernah berteman dengan elu, bangga elu pernah jadi bagian dari kisah hidup kami…

…Terima kasih atas persahabatan kita.”

Mentari tenggelam ke dalam peraduannya. Satu lagi perputaran bumi manusia. Satu lagi bab dalam buku kehidupan ditutup.

 

*Untuk seorang sahabat (1978-2016), beristirahatlah dengan tenang.

Nurani

Laut Kidul, 1406

Langit memerah. Lidah api raksasa melalap kapal-kapal Keraton Timur. Bara menari-nari di malam tanpa rembulan. Jasad para bangsawan dan pengawalnya yang telah terkoyak-koyak keris dan cetbang terombang-ambing di antara ombak. Pasukan kecil itu jelas bukan tandingan para pengawal perairan ini, armada selatan Majapahit.

Tak lama setelah pasukan darat Keraton Barat menembus pertahanan Lumajang, Bhre Wirabumi beserta keluarga besarnya melarikan diri ke arah pesisir selatan. Mereka berencana berlayar ke pulau Bali. Desas-desus menyebutkan bahwasanya kerajaan kecil itu bersiap untuk melepaskan diri dari genggaman kekaisaran. Bagi mereka, musuh Trowulan adalah teman dan sekutu.

Akan tetapi rencana pelarian ini sempat terendus telik sandi Majapahit. Mereka pun menyiapkan jebakan. Kapal-kapal pelarian Keraton Timur bergerak dari balik rawa-rawa kala mentari tenggelam. Sontak belasan kapal cepat armada selatan yang bersembunyi di balik Nusa Barung mengibarkan layar. Sebelum tengah malam, flotila pelarian luluh lantak.

Larang dan Nadim berenang perlahan mendekati salah satu kapal besar yang mulai terbakar. Dengan buluh perumpung di mulut masing-masing, mereka menyelam bergerak tanpa mengeluarkan riak. Mereka tak ingin terdeteksi pasukan Majapahit yang berada tak jauh dari kapal-kapal Keraton Timur.

Mereka memanjat sisi kiri lambung dan mendarat di geladak tanpa terlihat. Api yang melalap tiang layar utama semakin membesar. Dengan tubuh tertutup jelaga keduanya bergerak menyatu dengan bayangan.

Di tangga menurun ke dalam lambung kapal yang terletak di buritan Nadim berbisik pada Larang, “naskah-naskah yang kita cari memiliki cap Sang Hyang Baruna. Ambil semua yang kau temukan.”

Nadim berbadan kekar dengan parut luka di sekujur tubuh. Rambut dan cambangnya putih, suaranya berat dan parau. Ia berbicara dengan logat orang-orang selat. Sementara Larang adalah seorang pemuda dari pantai di barat laut pulau Jawa. Rambutnya yang masih basah oleh air laut menyapu pundaknya yang kecoklatan oleh matahari. Ia menganggukkan kepala pada perintah Nadim. Mereka bergegas ke arah yang berlawanan.

Larang menyusuri salah satu lorong di dalam lambung. Semakin ke dalam semakin sulit baginya untuk bernafas. Suhu udara pun semakin panas. Bau anyir menyeruak dari mayat-mayat yang tergeletak di lantai kapal. Tanpa membuang waktu ia mengumpulkan dan memilah naskah-naskah di sana. Sesuai perintah yang diterima beberapa hari lalu: naskah dengan cap Sang Hyang Baruna. Naskah peninggalan Rakryan Tumenggung Mpu Nala yang masih tersisa.

Dari balik pecahan kayu di lambung kapal ia dapat melihat umbul-umbul Pataka Gula Kelapa berkibar di luar sana. Kapal-kapal armada selatan masih berjaga-jaga. Satu dua cetbang menyalak menembaki orang-orang Keraton Timur yang kedapatan masih hidup dan mencoba melarikan diri bersama ombak di dalam kegelapan malam. Perintah Bhra Narapati jelas, tidak ada musuh yang boleh dibiarkan hidup.

Larang berlari ke arah tangga yang menuju buritan. Saat ia menapakkan kaki di anak tangga, dari balik dinding kayu ia mendengar suara tangisan. Larang tertegun. Tangisan seorang anak kecil. Ia mencoba mendekati arah suara.

“Apa yang kau lakukan, Larang. Kita harus segera keluar dari kapal celaka ini,” tiba-tiba Nadim telah ada di belakangnya.
“Kau mendengarnya juga kan? Ada seorang anak di sini. Kita harus menolongnya,” seru Larang setengah berbisik.
“Tugas kita hanya menyelematkan naskah! Kita tidak menyimpang dari tugas dan kita tidak masuk ke dalam pertikaian mereka. Aku tahu kamu baru bergabung, jadi akan kuingatkan sekali lagi: Para Penjaga tidak ikut campur,” jawab Nadim yang telah berdiri di ujung atas tangga. “Putuskan sekarang juga.”

Larang terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih dapat mendengar isakan tangis itu. Sayup-sayup masih mendengar letusan cetbang dan sorak sorai prajurit Majapahit. Udara semakin hangat oleh api yang membesar membakar tiang-tiang utama. Sewaktu-waktu tiang-tiang tersebut dapat runtuh, menyebarkan api ke lambung kapal dan membakarnya habis.

§

Di rawa-rawa beberapa ratus tombak dari lokasi flotila Keraton Timur, Nadim muncul dari dalam air. Ia menyelinap di antara akar-akar hutan bakau menuju salah satu semak-semak di tepian. Tetapi ternyata itu bukan semak sesungguhnya. Lebih menyerupai selimut yang berbentuk semak-semak. Ia membukanya dan di balik selimut itu tersembunyi sebuah sampan.

Tiba-tiba sebuah kantung dilemparkan ke dalam sampan. Nadim berbalik ke arah lemparan, seketika tangannya telah menggenggam sebilah kerambit.

Itu adalah Larang. Ia telah berdiri di belakang Nadim. Dadanya kembang kempis.

“Itu naskah yang aku kumpulkan di kapal. Aku telah menyelesaikan perintah. Apa yang akan kulakukan sekarang adalah pilihanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Para Penjaga,” Larang berbalik memunggungi Nadim, bersiap kembali menuju laut.

“Hey, pemuda bodoh!” Nadim berseru. Larang membalikkan badannya. Dengan reflek tangannya menangkap benda yang dilemparkan oleh Nadim. Sebuah bungkusan kain berisi busur silang kecil dengan lima buah anak panah besi.

“Jangan kau mati malam ini,” ujar Nadim datar. Larang menganggukan kepalanya. Ia segera berlari ke arah laut. Dalam sekejap tubuhnya menghilang bersama ombak muara yang kelam.

Malam semakin larut, di kejauhan api masih menari. Menari-nari bagaikan mengiringi nyanyian lirih sang ratu penguasa lautan ini.

Tujuan

Di sebuah restoran yang terletak di pelataran pusat perbelanjaan mewah ibukota, dua orang pria tampak berbincang serius. Yang satu setengah baya, menggunakan kemeja putih digulung selengan. Ia menggunakan jam emas dan sepatu dari kulit buaya. Sesekali ia membolak-balik kertas di hadapannya, menatapnya serius sembari mengusap keringat dengan sapu tangan.

Di seberang meja duduk lawan bicaranya. Berpakaian santai, kemeja lengan pendek berwarna biru pastel, celana khaki, dan sendal kulit buatan Jerman. Rambutnya tersisir ke belakang, klimis oleh pomade. Ia duduk bersandar sambil menyilangkan kaki. Kacamata hitam tak lepas dari wajah, padahal sinar matahari terhalangi oleh gedung-gedung di seberang jalan.

“Saya dengar keputusan Kejaksaan untuk membuka kasus anda sudah final?”
“Ya.”
“Anda tidak khawatir, Bos?”
“Kalau mereka berhasil mendakwaku, setidaknya terancam 15 tahun penjara. Tentu saja aku khawatir.”
“Wah… menyebalkan sekali ya.” Pria setengah baya itu berhenti membaca dan menengadah ke arah lawan bicaranya. Ia berdeham dan matanya menatap sinis.

“Jadi bagaimana? Anda berminat dengan proposal yang saya tawarkan?
“Saya masih belum sreg dengan syarat dan ketentuannya.”
“Ada pasal yang meragukan?”
“Tidak juga. Saya hanya merasa perlu membaca setidaknya satu kali lagi, agar tak ada pasal atau klausul yang luput dari pengamatan.”
“Sepertinya anda termakan rumor yang beredar, Bos. Anda kan tahu, di zaman media sosial seperti sekarang, berita tidak jelas pun menjadi viral. Asal pas bumbunya.” Si pria setengah baya mengacuhkannya. Sebagai seorang politisi senior, ia sudah biasa dengan rumor.

“Saya sudah melakukan bisnis ini lama sekali. Inti dari penawaran saya sederhana saja. Saya punya aset yang saya tahu Bos inginkan. Sementara, Bos memiliki persis apa yang saya butuhkan. Pasal-pasal di sana hanya tetek bengek yang memastikan bahwa lingkup perjanjian kita tidak menjalar kemana-mana,” pria itu memperbaiki posisi kacamata hitamnya. “Sungguh, pasal-pasal itu lebih banyak berisi tentang perlindungan klien. Bisnis kami berbasis kepuasan klien, Bos,” sambungnya, mengongkang-onkang kaki.
“Ya, anda boleh berkata seperti itu. Tetapi anda juga tentu sudah tahu reputasi anda di masyarakat. Saya akan bodoh sekali bila tidak berhati-hati,” jawab si politisi sambil terus meramban baris demi baris kata-kata di kertas.
“Begini, Bos. Saya rasa kita tak perlu terlalu lama bertele-tele,” pria itu membuka kacamatanya. Matanya yang sayu menatap lurus ke mata si politisi. “Anda punya keinginan. Sama juga seperti saya. Saya yakin anda tahu persis isi perjanjian ini,” ujarnya sambil menekankan jarinya ke kertas. “Saya bahkan telah menjabarkan bonusnya. Bonus yang hanya ditawarkan ke orang-orang seperti anda.” Ia lalu mencondongkan badannya ke depan, “jadi saya akan tanya sekali lagi: are you in, or are you out?”

Si politisi menutup map yang mengamplopi kertas-kertas tadi. Ia memandang langit kota yang memerah oleh senja yang merekah. Entah apa yang dicarinya di sana. Bila akan jaminan keabsahan niat si pria berkacamata, jelas dia salah alamat. Tatapannya bergerak ke sana ke mari. Wajahnya berlipat, sesekali tangannya mengusap dagu, sesekali merubah posisi duduk.

Beberapa saat kemudian ia mendapatkan keputusan. Diulurkannya tangan ke depan, yang dengan segera disambut oleh jabatan erat pria di depannya. Satu lagi perjanjian bisnis yang sukses berhasil dikantongi.

Pria berkacamata itu tersenyum lebar sambil meneguk secangkir triple espresso. Aku yakin si politisi mengerti sepenuhnya masalah yang ia telah undang. Tetapi dalam kondisi buah simalakama, keuntungan seperti apa pun tidak boleh dilewatkan.

§

Lima tahun kemudian.

Si politisi tengah bersantai di vila pribadinya. Hari itu udara pegunungan sangat sejuk, nisbiah untuk daerah tropis seperti ini. Aroma yang menyebar dari pepohonan pinus menggelitik hidung. Rumput masih basah oleh kabut yang perlahan menguap diusir mentari tengah hari. Suara burung-burung di pucuk pepohonan bersaing dengan suara musik dari pemutar piringan hitam dan dengan cekikikan gadis-gadis berpakaian minim yang lalu lalang di sisi kolam renang. Vila ini dibangun seorang gubernur jenderal di masa kolonial. Aslinya tidak memiliki kolam renang, tetapi atas permintaan si politisi sebuah kolam dibangun tiga tahun lalu. Agar lebih meriah, ungkapnya. Ya, tentu. Yang jelas sejak kolam ini selesai, aku tak pernah lagi melihat keluarga si politisi berkunjung ke vila.

Seorang gadis berkulit putih bagai pualam yang tubuhnya hanya ditutupi dua lembar kain tipis mendekatinya sambil membawa telepon genggam. Dengan senyuman dan kerlingan ia menyerahkannya pada si politisi. Bak penari ia membalikkan badan dan melenggak-lenggok ke arah kolam. Tempat ini memang penuh dengan keindahan. Pantas saja bisnis temanku tidak pernah seret.

“Halo, Karina.”
“Ya, Pak. Saya masih baru saja turun dari heli, Pak. Sekarang sedang di mobil menuju ke vila.”
“Oke, bagus. Untunglah kamu bisa menyempatkan datang. Saya tahu kamu baru mengambil cuti liburan tiga hari lalu.”
“Tidak masalah, Pak. Bapak kan mengerti saya, tidak bisa tenang selama liburan. Terus menerus memikirkan masa kampanye yang tinggal dua minggu lagi,” jawabnya penuh semangat. Tulus atau tidak, aku tak mampu memastikan.
“Baiklah, saya tunggu di vila.”

Ia merebahkan badan dan memejamkan matanya. Dengan jentikan jari, dua orang gadis yang sedang duduk-duduk di tepi kolam mendekat. Aku bagai menyaksikan penampilan virtuoso kala jari-jari mereka yang lihai mengoleskan losyen, mengusap, membelai, dan melemaskan otot dan urat yang tegang pada tubuh pria tua itu.

Deru mesin dan suara ban mobil yang melindas kerikil membuyarkan lamunannya. Ia meraih kimono putih tebal yang ada di meja dan berjalan masuk ke dalam ruang kerja. Di sana direktur kampanye sudah berdiri menunggu. Nafasnya sedikit terengah-engah tetapi wajahnya sumringah. Sebuah koper besar teronggok di dekat pintu.

“Bagaimana liburannya, Pak?” ujarnya membuka percakapan.
“Lumayan. Bagaimana Rio?”
“Wah ramai sekali, Pak. Penuh dengan turis. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, merancang strategi kampanye dan berkoordinasi dengan pasukan media sosial kita.”
“Bagus, bagus. Bagaimana dengan nyonya besar?”
“Tim saya sudah menanganinya sesuai dengan pesan Bapak. Ibu dan anak-anak baru tiba di St. Moritz. Kami sudah berkoordinasi dengan polisi setempat agar menjauhkan pers dari keluarga Bapak.”
“Oke. Penting sekali bagi saya untuk berkonsentrasi pada kampanye tanpa gangguan nyonya besar,” matanya melirik ke arah kolam renang.
“Tentu saja, Pak. Tentu saja.”

Politisi senior itu menduduki kursi di belakang meja kerjanya yang sangat besar. Pada dinding di belakangnya tergantung sebuah lukisan portret setinggi tiga meter. Di sana tampak ia berdiri menggunakan seragam kebesaran, lengkap dengan segala regalia, dengan latar belakang keindahan alam negaranya.

“Karina, silakan duduk.” Perempuan itu tergopoh-gopoh mendekati kursi di hadapan si politisi. Sedikit terhuyung-hutung. Masih jetlag sepertinya. “Ada sesuatu yang sangat penting yang hendak saya bicarakan.”
“Masalah elektabilitas, Pak?” air mukanya cemas.
“Ya, salah satunya. Saya benar-benar khawatir mengenai hal ini. Dalam tiga bulan terakhir, elektabilitas saya selalu kalah jauh dari si keparat. Rata-rata tertinggal 25%.” Mendengar hal itu Karina semakin gelisah.
“Pasukan media massa dan media sosial kita sudah dikerahkan untuk menyebar propaganda, Pak.”
“Saya tahu. Tetapi sejak si Jaksa Agung Muda idealis itu berkoar di media bahwa dia akan membuka kasusku dari lima tahun lalu, semua tindakan kita bagaikan tong kosong. Apalagi tadi pagi ia baru saja sesumbar di akun media sosialnya bahwa besok akan membawa bukti-bukti baru ke Kejaksaan.” Sang direktur kampanye menunduk semakin dalam. “Kamu tahu artinya bila kita kalah?”

Karina, sang direktur kampanye, adalah mantan sukarelawan yang paling vokal saat si politisi mencalonkan diri lima tahun lalu. Imbas dari kemenangan jagoan yang dielu-elukannya, konglomerasi keluarganya mendapat durian runtuh. Berbagai kontrak pemerintah dilimpahkan ke mereka. Mulai dari pembangunan jalan tol, pengadaan kapal-kapal berat, hingga impor vaksin bagi seluruh rumah sakit di pelosok negeri. Dengan perpanjangan tangan-tangan kekuasaan si politisi dan mesin propaganda raksasa Karina di belakang mereka, sama sekali bukan hal yang sulit untuk menggiring opini masyarakat. Mengalihkan tatapan mata publik ke arah lain sudah bagai permainan anak-anak.

Ancaman kekalahan di pemilihan berikutnya berpotensi menjungkirbalikkan fondasi kekuasaan dan menghentikan perputaran roda propaganda yang telah mapan. Dan Karina memiliki banyak rahasia yang harus tetap terkubur. Jauh di dalam tanah, jauh dari endusan publik.

“Apa yang harus saya dan tim lakukan, Pak?”
“Begini. Saya telah memikirkan hal ini selama beberapa hari terakhir. Saya rasa saya tahu orang yang dapat membantu kita keluar dari masalah,” jawab si politisi. Matanya menatap tajam ke arah Karina.
“Siapa, Pak? Biar saya hubungi sekarang juga.”
“Kamu tidak mengenalnya,” Karina sedikit terkejut. “Saya akan pertemukan kamu dengannya nanti. Tetapi sebelum itu, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya. Sebuah permintaan pribadi.”
“Tentu saja, Pak. Apa saja, Bapak tinggal sebutkan,” jawabnya tergesa-gesa.
“Orang yang saya ceritakan ini, dia memiliki pengaruh yang luar biasa. Saya sangat yakin, dengan bantuannya kita mampu lolos dari masalah elektabilitas yang sedang kita hadapi.” Karina memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan dengan seksama. “Pria ini membantu saya keluar dari masalah tuntutan hukum lima tahun lalu.” Si politisi mengeluarkan sebatang cerutu dari dalam laci. “Namun sebagai akibatnya, saya berhutang banyak. Sementara itu,” ia menyalakan cerutunya, “kamu tahu sendiri bahwa arus keluar-masuk asetku saat ini sedang diawasi secara ketat. Saya tidak dapat meminta bantuannya lagi sebelum…”
“Maaf bila saya lancang memotong, Pak. Saya rasa saya tahu arah pembicaraan ini. Tentu saja saya siap, Pak. Berapa pun besarnya hutang tersebut, saya yang akan menanganinya,” ujarnya berapi-api.
“Kamu yakin? Hutang ini sangat besar. Memang, bantuan darinya akan sangat sepadan. Sangat, sangat sepadan.”
“Bapak tidak perlu meyakinkan saya lagi. Bapak berikan saja nomer kontaknya, saya yang akan menangani selanjutnya,” jawab Karina mantap.

Konglomerasi keluarganya tiga tahun berturut-turut berada di Forbes 500, rekening pribadinya tersebar dari Geneva hingga Pulau Cayman, tentu Karina dapat menjawab permintaan si politisi dengan percaya diri. Lagi pula apa gunanya semua aset tersebut bila nanti dibekukan oleh rezim pengganti. Lebih baik berkorban sekarang untuk mendapatkan untung yang lebih besar di kemudian hari, mungkin begitu pikirnya. “Berapapun biayanya akan saya sediakan. Kelanggengan kepemimpinan Bapak adalah tujuan hidup saya,” tambah Karina. Dalam benak ia mengira-ngira besar hutang si politisi serta mengalkulasi aset-aset apa saja yang harus ia korbankan. Lamunannya dibuyarkan oleh suara ketukan di pintu. Saat pintu terbuka, seorang pria dengan kemeja merah muda dan celana kargo selutut sudah berdiri di sana.

“Halo, Bos!”
“Halo. Silakan masuk.”
“Halo, sepertinya kita belum berkenalan,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Karina.
“Karina, direktur kampanye Pak…”
“Ah, tentu saja,” pria itu menyambut tangan Karina dan mencium punggun tangannya dengan lembut.
“Ini, Karina. Calon duta besar saya di periode berikutnya,” sambung si politisi sambil sedikit menyunggingkan senyum, berusaha mencairkan suasana. Ia berjalan mendekati kabinet yang berisi beberapa botol minuman. “Saya tadi baru saja berdiskusi dengan Karina. Dia setuju untuk mempergunakan asetnya untuk membayar hutang saya kepadamu.”

Dari perubahan mimik wajahnya, pria itu terlihat agak kaget. Ia masih memegang tangan Karina saat menoleh ke arah si politisi. “Begitu?” ujarnya.

“Ya, saya setuju untuk menggantikan beliau melunasi hutangnya pada anda,” ucap Karina tegas. “Sebagai pendukungnya yang paling setia, saya seratus persen berkomitmen pada keputusan ini. Secepatnya tim pengacara dan akuntan saya akan segera menghubungi anda, memformalkan perubahan kontrak.”
“Tidak perlu, nona. Saya melihat mata anda yang begitu indah, saya tahu anda orang yang dapat dipercaya. Yang saya butuhkan hanya persetujuan verbal dan jabatan tangan anda,” ujar pria itu, senyum masih tersungging di bibir.

Karina mengulurkan tangannya dengan sigap. Pria itu melirik pada si politisi yang hanya menatap dari jauh dengan raut wajah dingin. Si politisi meneguk sekaligus minuman di gelasnya. Saat ia menggengam erat tangan Karina, matanya sekilas tampak bersinar. Tapi kurasa cuma aku yang bisa melihat itu. Karina sendiri sedikit terkejut oleh betapa dingin tangan yang ia genggam. Pikiran yang masih diselimuti oleh berbagai masalah kampanye membuatnya segera menepis keanehan tersebut.

“Nona cantik, anda tidak perlu lagi pusing memikirkan masalah kampanye,” ujar pria itu.
“Baiklah. Terima kasih, Karina. Sekarang ada yang hendak saya bahas dengan teman saya ini,” ujar si politisi.
“Tentu saja, Pak,” jawab Karina. Seiring kakinya melangkah menuju pintu, Karina merasakan suhu ruangan drastis berubah menjadi sangat dingin. Ia menatap ke luar, mentari masih bersinar cerah. Mungkin cuma thermostat yang bermasalah, gumamnya dalam hati.

“Saya tahu kamu seorang politisi yang licin. Tetapi mengkhianatinya seperti itu… Wow, saya terkesima, Bos,” ujar si pria sesaat setelah pintu kembali tertutup.
“Kamu sendiri yang menulisnya di kontrak yang kamu sodorkan lima tahun lalu,” jawab si politisi singkat.
“Dari awal saya sudah merasakan bahwa anda adalah pelanggan yang spesial. Jarang sekali ada yang membaca tumpukan pasal-pasal itu,” sang pria tertawa kecil. Sang politisi kembali duduk di kursinya.
“Lalu, mengenai bonus yang kamu tawarkan?”
“Kita baru saja menutup satu bisnis dan anda sudah hendak membahas bisnis baru. Santai sedikit lah,” pria itu menjatuhkan badannya ke sofa besar di sudut ruangan. “Tentu. Seperti ucapan saya dulu, bisnis ini mementingkan kepuasan klien. Saya tidak pernah mengingkari janji. Tidak pernah. Anda akan segera mendapat tambahan keuntungan pasca perjanjian yang baru kita tutup tadi.”
“Baiklah. Lalu, mengenai atasan anda?” tanyanya hati-hati.
Pria itu tertawa lantang, bagai telah menunggu-nunggu pertanyaan tadi. “Jawaban saya masih sama. Beliau tidak suka kepadamu, Bos. Nilai merahmu terlalu banyak. Tidak ada peluang sama sekali ia akan meloloskanmu. Tapi,” pria itu mengambil jeda sejenak, “mungkin saya bisa menawarkan bisnis baru lainnya.”
“Maksudmu?”
“Saya tetap memberikan bonus sesuai yang telah dijabarkan di perjanjian awal kita dulu, efektif mulai detik ini: anda akan terpilih untuk periode kedua,” gelegar guntur terdengar dari balik jendela tepat di akhir kalimat pria itu. Ya, petir di siang bolong. Temanku itu memang teatrikal.

“Mengenai bisnis baru yang kau sebutkan barusan?”
“Bila anda bisa membawa lebih banyak orang lagi untuk menyerahkan jiwanya padaku, seperti yang baru saja anda lakukan pada gadis malang tadi…”

Di sini pria itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Ia mengeluarkan arloji bandul dari dalam saku celananya. Sambil menatap arloji, ia mengangkat tangannya. Tak lama kemudian, ia mulai menghitung mundur menggunakan jari-jarinya.

“Lima, empat, tiga, dua, satu.” Berselang sekitar satu detik dari kata terakhir tadi, sayup-sayup terdengar suara menggelegar dari kejauhan. Kali ini bukan petir. “Helikopter yang ditumpangi Karina baru saja menabrak tebing,” pria itu menekuk wajahnya, membuat mimik sedih. Ia memasukkan arloji ke dalam saku. Si politisi hanya duduk membisu. Wajahnya pucat, cerutu di tangannya hampir saja jatuh.

“Sampai di mana tadi? Oh ya, bila anda dapat terus menyuplai saya dengan jiwa-jiwa malang, maka tim kami, yang tersebar di seluruh benua dan samudera, akan menjamin bahwasanya semua kemewahan, semua kesenangan, semua gadis-gadis muda, semua Chardonnay, Merlot, dan Chianti yang anda cintai, vila-vila besar di kaki gunung seperti ini, mulai dari Patagonia hingga Carpathia, akan selalu tersedia bagi anda. Kamu memang tidak akan menuju ke atas,” tangannya menunjuk ke langit-langit, “tetapi setidaknya Bos bisa menikmati tempat ini sembari menunggu tujuan akhir.” Ia membalikkan tangannya, telunjuknya mengarah ke lantai. “Jadi, sekali lagi, are you in or are you out?”

Politisi setengah baya itu bangkit dari kursinya. Ia menghisap cerutu dalam-dalam, lalu mematikannya di asbak bersalut emas. Ia berjalan menghampiri si pria, “bila itu tujuan akhir saya, tentunya akan lebih baik bila saya membawa banyak teman.” Dan ia pun mengulurkan tangannya.
“Haha, saya tahu anda memang pelanggan yang cerdas,” pria itu bangkit dari sofa, menyambut tangan si politisi dan menjabatnya erat. Ia lalu melangkah ke arah pintu keluar.

“Bos, selera anda bagus. Saya sangat menyukai vila ini. Dulu saya pernah mengunjungi sang gubernur jenderal yang membangunnya. Tak terkira berapa ribu jiwa-jiwa malang yang ia kirimkan kepadaku. Nanti saya akan kenalkan anda padanya. Kalian berdua pasti cocok. Sampai bertemu lagi!”

Si pria misterius itu menutup pintu. Suara menggelegar dari luar jendela mengiringi tawanya yang masih terdengar dari balik dinding. Sebuah petir menghujam bumi tidak jauh dari komplek vila mewah sang politisi. Awan mendung besar bergulung-gulung menyusuri punggung pegunungan. Gadis-gadis muda dari kolam renang tertawa-tawa kecil, berlarian masuk ke dalam ruangan kerja si politisi untuk menghindari gerimis.

Tak berselang lama hujan berubah deras. Sederas keuntungan bisnis temanku selama beberapa ribu tahun terakhir. Bangsa manusia, kalian memang selalu jatuh pada lubang-lubang yang sama.