Sungai di Belakang Ladang Jagung

Ladang jagung. Dedaunan mulai mengering, seperti tanah yang retak-retak lama tak tersentuh hujan. Hawa musim kemarau berhembus lembab. Keringat mengalir deras di tubuh para petani di ladang.

Iwan berjalan di jalan berdebu, di sebelah saluran irigasi yang nyaris tak berisi. Dia berjalan menuju jalan yang sedikit lebih besar di tepian perkebunan jagung, yang biasa dilewati kendaraan umum. Jalan yang sudah dia lewati sejak kecil, yang menghubungkan rumah dan sekolahnya, dua kilometer ke arah kota kecamatan.

Langkah Iwan tegap, menghiraukan hatinya yang berat. Di satu sisi dia berhasil melampaui tantangan dunia. Tak akan ada yang percaya anak buruh tani seperti dia mampu mendapatkan kesempatan meraih pendidikan tinggi di kota. Sebagian besar rekan-rekan sebayanya bahkan tak mampu mengenyam pendidikan menengah. Anak yang sudah bisa memegang cangkul lebih berguna di ladang daripada di sekolah, begitu pikiran orang-orang di desanya. Hanya atas kebaikan hati seorang saudagar yang memperkerjakan ayahnya Iwan memperoleh pekerjaan di pasar kabupaten. Upahnya dapat dia sisihkan untuk mengambil kursus di sekolah montir.

Di sisi lain, hatinya tertambat di rumah. Pada ayah dan adik-adiknya. Walaupun sang ayah tersenyum bangga saat Iwan pamit, lelaki tua itu sudah mulai ringkih dan kepayahan saat bekerja di ladang. Dua adik perempuan Iwan harus membantu di ladang sekaligus menjadi buruh cuci bagi orang-orang kecamatan. Ibu mereka telah lama tiada, meninggal saat melahirkan adiknya yang bungsu. Dalam hati Iwan berdoa agar sekolahnya lekas selesai, agar segera memiliki cukup uang untuk membelikan sepetak tanah ladang bagi ayahnya.

 

Sebuah mobil bak terbuka mendekat, debu-debu beterbangan saat rodanya menggilas jalan kerikil. Mobil itu berhenti tak jauh dari Iwan yang segera mengenali orang-orang di dalam. Teman-teman sekolahnya dulu.

“Wan, kau mau ke kota ya? Ayo biar aku antar,” seru pemuda di belakang setir. Namanya Sawo, teman dekat Iwan sewaktu sekolah dasar. Keluarga Sawo juga buruh tani seperti keluarganya.

Pemuda yang duduk di kursi penumpang acuh. Namanya Marto. Dia adalah pamong di desa mereka. Ayahnya pemilik mesin pengolahan jagung, sekaligus tengkulak bagi para petani desa.

Sejak mereka lulus sekolah dasar, Iwan dan Marto menjadi renggang. Iwan melanjutkan ke sekolah menengah sementara Marto dipaksa bekerja di gudang ayahnya. Rumah Marto adalah satu-satunya yang memiliki televisi. Namun Iwan tak pernah diundang untuk menyaksikan wayang atau pertandingan tinju di rumah Marto. Kini Marto adalah pamong desa yang ditugaskan menjaga keamanan dan Sawo menjadi pembantunya.

“Kau memangnya mau kemana Sawo, kecamatan? Kau yakin tak merepotkan?” tanya Iwan sambil melirik ke arah Marto.

“Tak apa-apa. Nanti aku antarkan kau sampai terminal. Sebelumnya kita mau ngobrol-ngobrol dulu,” jawab Sawo. Nada bicaranya sedikit berubah di kalimat terakhir.

Tiba-tiba Marto membuka mulut. “Naiklah, Iwan. Apa kau sekarang sudah sombong, mentang-mentang jadi anak kota?” Wajahnya menatap ke depan tak menoleh. Pamong muda itu menghisap rokoknya dalam-dalam, klobot bersalut kulit jagung kering.

“Ah, apa kau cakap, Marto. Kita kan teman sejak kecil,” balas Iwan sedikit kikuk, tak menyangka Marto akan berkata seperti itu. “Baiklah,” lanjutnya sambil memanjat bak di belakang mobil.

Mobil berjalan. Kerikil-kerikil kembali berhamburan.

Udara semakin terik. Angin yang berhembus kencang saat mobil bergerak kencang membuat kelembaban tak terlalu menyiksa. Debu melekat pada kulit menutupi pori-pori di wajah Iwan.

Tak jauh dari sungai kecil yang membelah area perkebunan jagung, mobil berbelok. Tempat yang tak lazim untuk mengobrol, pikir Iwan.

“Itu bukannya tempat kita dulu biasa berenang?” seru Iwan sambil menunjuk ke arah pinggir sungai di seberang, beberapa ratus meter dari tempat mobil berhenti. Iwan berusaha memberi isyarat kalau sebaiknya mereka berbincang sana. Tempat yang lebih familiar. Tempat yang lebih terbuka.

Sawo dan Marto turun dari mobil. Ada sedikit kekahawatiran di raut wajah Sawo.

Marto berjalan ke bibir sungai, mengambil sekeping batu pipih, dan melemparkannya ke permukaan sungai yang tenang. Batu memantul beberapa kali sebelum tenggelam ke dasar. Airnya yang coklat mengalir tenang, menyapu batu-batu besar yang terlempar dari gunung api di balik hutan, menjulang megah menembus awan.

“Ada apa ini sebenarnya, Wo?” tanya Iwan.

“Tidak ada apa-apa, Wan. Kita bertiga kan teman dari kecil. Ya semacam perpisahan saja lah.”

“Perpisahan?” tanya Iwan. Matanya tak bisa lepas pada pistol tua yang menggantung di pinggang Marto.

Tidak ada yang berani memprotes saat Marto, anak orang paling kaya di desa, ditunjuk sebagai pamong. Daripada petantang petenteng tak karuan, pikir warga. Tapi manusia tak berubah saat mendapat kekuasaan. Kekuasaan mempertegas karakter yang sudah ada. Kekuasaan memunculkan karakter yang masih terpendam.

“Kau tahu kenapa aku dulu selalu berbuat kenakalan di sekolah, Wan?” tiba-tiba Marto berkata.

“Ah, biasa lah. Namanya anak-anak. Kita semua kan juga selalu berbuat kekacauan,” jawab Iwan. Sawo tertawa kecut.

“Tak usah bermanis mulut. Kau tahu kenakalanku bukan sekadar keisengan seorang anak ingusan,” balas Marto dingin.

Pikiran Iwan melayang pada saat mereka masih sekolah dasar. Kelakuan Marto membuat seorang guru di sekolah mereka mengalami kecelakaan hingga lumpuh permanen. Tak ada warga yang berani protes. Bahkan guru-guru yang lain pun bungkam.

Keesokan harinya Marto kecil masuk sekolah dengan pipi lebam. Teman-temannya tak banyak bertanya. Mereka sudah terbiasa melihat Marto kecil masuk sekolah dengan luka kering atau memar serta lebam.

“Tempat ini neraka,” ujar Marto. “Dari kecil aku cuma ingin keluar dari desa sialan ini. Aku yakin penjara di kota pasti rasanya lebih nyaman.”

Marto berjalan mendekati Iwan.

Sawo memperhatikan dengan seksama. Hatinya waswas.

“Dan sekarang, anak petani miskin hina ini yang jadi anak kota,” ucap Marto tepat di depan wajah Iwan.

Iwan dapat mencium bau tuak dari mulut si pamong muda. Tuak murahan yang biasa diselundupkan dari desa sebelah. Selundupan yang bila ketahuan akan disita oleh pamong desa dan disimpan di gudang balai desa.

Tangan Iwan mengepal. Namun hanya untuk sedetik. Semenjak kecil dia sudah tahu bahwa tak ada gunanya melawan Marto.

“Aku hanya beruntung, Mar. Kau pun nanti juga bisa pindah ke kota,” balas Iwan, berusaha tetap tenang, memaksakan sebuah senyum di wajah.

“Kau mengejekku, orang miskin?” Marto mendorong tubuh Iwan.

“Mar, tenanglah. Kau bilang kita ke sini cuma untuk berbincang-bincang,” seru Sawo.

“Diam kau. Kau juga sama hinanya dengan si anak petani kotor ini.”

“Mungkin sebaiknya kita balik ke balai desa. Iwan bisa lanjut sendiri dari sini. Ya kan, Wan?”

Iwan mengangguk.

“Tak usah banyak mengatur kau, Wo. Ingat tempatmu. Kalau bukan karena ibumu menawarkan badannya ke bapakku, kau tak akan pernah menjadi siapa-siapa,”

Mata Sawo mendelik. Iwan sama terkejutnya.

“Aku tak tahu apa yang membuat si tua bangka itu mau pada janda layu seperti ibumu.” Marto meludah.

Iwan mendekati Sawo dan berbisik, “sabar, Wo. Dia mabuk, dia cuma meracau.”

“Apa kau bilang, Mar?” tanya Sawo pelan dan bergetar.

“Aku tak mabuk, anak petani. Aku tahu apa yang kuucapkan.”

“Kalau begitu tarik ucapanmu,” seru Sawo menahan amarah. Matanya menyala.

“Kau sudah besar Sawo. Jangan lah terlalu naif. Orang sebodoh kau bagaimana mungkin bisa diangkat jadi pembantu pamong kalau bukan karena ibumu si sundal desa.”

Selama hidupnya, tak ada orang yang berani menentang Marto. Apapun yang dia lakukan, apapun yang dia katakan, tak pernah sekali pun Marto merasakan resikonya. Yang dia takuti cuma gesper sabuk ayahnya. Namun kali ini Marto melewati batas. Melewatinya terlalu jauh.

Sawo berlari menerjang Marto.

“Wo! Jangan, Wo!” teriak Iwan, tanpa hasil.

Gelagapan, Marto berusaha meraih pistol di pinggang. Belum sempat tangannya mencabut pistol dari sarung, Sawo menerkam dan mendorongnya jatuh ke tanah. Mereka bergumul beberapa detik. Rumput kering dan tanah kering berserakan, menempel pada kulit yang basah oleh keringat. Di benak Iwan pergumulan itu seolah berlangsung berjam-jam. Pergumulan yang akhirnya berhenti saat tubuh Marto dan Sawo menggelinding dan membentur sebuah batu besar di bantaran. Sebuah dentuman. Lalu sebuah letusan.

Burung-burung gagak beterbangan dari dalam ladang jagung.

Iwan terpaku. Dia tahu harus melakukan sesuatu tapi dia tak mampu bergerak. Keringat dingin mengalir di kening. Mulutnya kering kerontang.

Iwan menatap tubuh dua orang berseragam pamong itu tak bergerak. Kemudian dia melihat setungkai lengan bergerak keluar dari himpitan. Tangan itu menggenggam pistol. Pistol tua berwarna hitam berlumuran darah.

Adrenalin membanjiri tubuh Iwan. Dalam ketakutan yang masih mencengkeram ketat, dia berlari mendekati tubuh yang masih terhimpit dengan tangan memegang pistol. Seolah-olah kaki-kakinya memiliki pikiran sendiri.

Seluruh tubuh Iwan bergetar hebat. Pandangannya begitu jernih. Indra-indranya begitu tajam. Dia dapat mendengar rumput bergoyang tertiup angin. Merasakan bau anyir dan mesiu di udara. Dia dapat melihat merahnya darah Sawo merembes di tangan. Di tangannya yang kini menggenggam pistol.

Dengan susah payah Marto mendorong tubuh Sawo dan berusaha bangkit. Kepalanya masih pening akibat benturan pada batu di bibir sungai. Ia melihat Iwan mengacungkan pistol.

“Berikan pistol itu, celeng,” perintah Marto. Suaranya pelan. Membuka mulut membuat sakit kepalanya menjadi-jadi.

Seekor tupai melompat di dahan pohon tepat di atas Iwan. Kegelisahan membuncah. Genggamannya di pistol semakin erat. Telunjuk menekan pelatuk semakin dalam.

Marto terhuyung-huyung berjalan ke mobil dan mengambil sebilah parang dari dalam. Ia berjalan mendekati Iwan dengan parang siap mengayun.

“Berikan, pistol i…”

Dor.

Sebuah letusan lagi.

 

Sudah dua malam Iwan bersembunyi di hutan. Sejak ia lari meninggalkan bibir sungai tempat mayat Sawo dan Marto tergeletak. Sejak ia meninggalkan mimpinya untuk pergi dan mengadu peruntungan di kota. Semalam, dari balik pohon-pohon jagung, Iwan mendengar obrolan dua orang petani kalau polisi dari kota ikut mencarinya. Bahwa ada orang yang melihat Iwan menaiki mobil bersama Sawo dan Marto. Dan Iwan adalah orang terakhir yang terlihat bersama dua pamong desa yang kini berkalang tanah. Iwan adalah buronan yang membunuh Sawo dan Marto.

Iwan tak terima. Ia tak terima dituduh membunuh Sawo. Pemuda naif itu selalu baik padanya. Ia tak akan pernah menyakiti teman masa kecilnya itu. Dan satu-satunya penyesalan Iwan karena telah membunuh Marto adalah cita-citanya yang pupus. Hati kecilnya yakin, pamong itu pantas mati.

Perutnya melilit, kakinya gontai, dia tak sanggup lagi berlari. Dan yang paling membuatnya ingin menyerah adalah ayah dan adik-adiknya. Iwan tak ingin mereka ikut menderita.

 

Polisi-polisi dari kota itu tak mau mendengar. Juga sang jaksa dan yang mulia hakim. Mereka tak mau mendengar kalau dia tak membunuh Sawo. Dan bahwa dia menembak Marto karena upaya membela diri. Orang-orang berjubah itu adalah teman si tengkulak desa. Tua bangka itu ingin memastikan Iwan dihukum seberat-beratnya. Tua bangka itu tak mau anaknya, Marto, dicap sebagai pembunuh. Mungkin satu-satunya kebaikan orang itu pada mendiang anaknya. Dan bila hal itu dapat membuat si tengkulak urung melampiaskan kemarahannya pada ayah dan adik-adiknya, Iwan ikhlas.

Saat palu hakim menghantam meja dan menyegel masa depan Iwan di balik jeruji untuk waktu yang sangat lama, pemuda malang itu berteriak keras. Suaranya jernih dan menggegelegar. Mengejutkan orang-orang di pengadilan. Memerahkan telinga sang hakim yang kehilangan wibawa.

“Aku menembak si pamong, tapi bukan aku yang menembak Sawo.”

 

§§§

 

Adendum

Terima kasih kepada Citra Pramadi, Miranda Te’ne, Hasim Sofaruddin, Daus Gonia, & M. Rasyidan Razak sebagai pendukung fanfic ini.

Terima kasih kepada Agus Nugraha untuk idenya membuat fanfic dari lagu “I Shot The Sheriff”.

Foto oleh freestocks.org di Unsplash

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.