Putih

Pagi ini kami berkumpul di pemakaman. Hanya sedikit orang. Aku, kedua orang tuaku, dan beberapa kerabat dekat. Kami berdiri mengelilingi sebuah makam. Tanahnya masih basah, nisannya masih baru mengkilap dengan tulisan keemasan. Kak Dinda berdiri di sampingku mengenakan pakaian pengantinnya. Putih bersih, sedikit bercak tanah merah di bagian bawah gaun. Kami semua yang ada di sana juga mengenakan pakaian putih.

Aku tahu, ini bukan pemandangan yang lazim. Sekelompok orang berpakaian putih di pemakaman. Seorang perempuan tanpa rias wajah dalam gaun pengantin memegang karangan bunga mawar di depan pusara. Aku tahu ini aneh. Tapi bila mengingat keadaan akhir-akhir ini, tak ada lagi yang akan membuat orang-orang terkejut. Kami semua sudah lelah untuk terkejut.

Cerita ini berawal sekitar duapuluh tahun lalu.

 

Ibuku senang sekali membacakan buku kepadaku dan Mas Rayi. Segala macam buku ibu bacakan. Kadang kami tak paham isinya, namun mendengarkan suara ibu membuatku tenang. Aku sering kali terbangun kembali saat ibu selesai membaca karena Mas Rayi merengek untuk terus dibacakan cerita. Kesukaannya adalah kisah-kisah sang pangeran kecil, sang pelaut Arabia, dan dunia-dunia ajaib Alice. Awalnya ibu akan mengulang beberapa buku bagi kami. Tapi setelah Mas Rayi kerap memrotes, ibu mulai kehabisan buku cerita. Akhirnya ibu mulai membacakan buku-buku sejarah di lemarinya. Aku yang terbuai suara lembut ibu membacakan setiap kata segera terlelap. Tapi mata Mas Rayi justru semakin berbinar saat mendengarkan ibu membaca kalimat-kalimat dari setiap buku baru.

Seiring usia, Mas Rayi mulai gemar membaca sendiri buku-bukunya. Terkadang ibu harus mengambil buku dari tangan Mas Rayi yang tak mau berhenti membaca di tempat tidur. Teman-teman sekolahnya yang berkunjung ke rumah kerap kecewa karena koleksi komik Mas Rayi hanya sedikit. Jauh dikalahkan jumlah koleksi ensiklopedi dan buku-buku “tanpa gambar”-nya. Saat mulai remaja, Mas Rayi mulai mengidolakan para ilmuwan-ilmuwan terkenal. Tokoh-tokoh seperti Galen, Hippocrates, dan Ibn al-Nafis adalah orang-orang yang selalu dia sebut-sebut dalam obrolan di rumah. Baginya mereka adalah pahlawan adidaya dari masa silam. Lebih hebat dari superhero komik apapun. Tak ada keraguan di mata Mas Rayi saat mengucapkan kalimat itu.

Idealisme Mas Rayi mulai terlihat saat dia masuk SMA. Entah karena pubertas atau memang watak, Mas Rayi kerap cekcok dengan ayah kami, yang juga seorang idealis namun dengan pandangan yang sering kali berseberangan. Buah tak jatuh dari pohon, kalau kata ibu. Sama-sama keras kepala, sama-sama berpendirian teguh. Sewaktu kakakku duduk di kelas duabelas, fase pemberontakannya menjadi lebih konkrit. Kamarnya tak pernah senyap, selalu berisik oleh lagu-lagu dari pemutar musik. Mas Rayi gemar mendengarkan musisi dengan lirik-lirik politis. Dia juga mulai membaca buku-buku terlarang, seperti buku-buku karangan Bakunin dan Engels. Entah dari mana Mas Rayi mendapatkannya. Tapi aku kenal kakakku. Bila sudah menyangkut buku, –cinta pertamanya–, Mas Rayi akan mencari hingga ke ujung dunia. Ibu demen meledek Mas Rayi yang kemana-mana selalu menggunakan kaus oblong andalannya. Kaus hitam dengan sablonan bergambar wajah Che Guevara, idolanya saat itu. Belum lagi kamarnya dipenuhi oleh poster-poster bergambar sang dokter revolusionis. Entah sudah berapa belas kali kakakku menonton film Motorcycle Diaries. Bahkan setelah dewasa kami terkadang masih suka menyindir kelakuan Mas Rayi saat remaja ini. Dan dua akan tertawa lepas dengan tawanya yang khas dan menular.

 

Aku pertama kali berkenalan dengan Kak Dinda saat Mas Rayi masih kuliah tingkat dua. Kak Dinda adalah teman seangkatannya di sekolah kedokteran. Aku masih ingat suasana jengah di rumah kami saat Mas Rayi mengajak dan memperkenalkan Kak Dinda pada ayah ibu. Waktu itu Kak Dinda membawakan martabak Mesir kesukaan ayah dan beberapa penganan kecil bagi kami. Orangnya ramah dengan senyum yang sangat manis. Aku yakin kedua orangtuaku saat itu segera menerima kehadiran Kak Dinda di rumah kami. Hanya saja, ibu selama ini selalu tegas berpesan pada Mas Rayi agar tidak berpacaran selama kuliah. Dan saat tiba-tiba kakakku membawa Kak Dinda ke rumah (dia sebelumnya tak pernah bercerita memiliki pacar), terus terang aku kaget. Dan sedikit kuatir akan reaksi ibu. Tapi setidaknya aku menjadi sedikit lega akibat keberanian dan keteguhan Mas Rayi. Saat itu aku juga sedang dekat dengan seorang teman di sekolah. Rasanya aku ingin berterima kasih pada kakakku yang berani membuka jalan, tapi aku tak berani karena ada ibu.

Suasana yang awalnya sedikit beku perlahan mencair oleh pembawaan Kak Dinda yang hangat. Dari pembawaannya aku dapat segera tahu kalau pacar kakakku ini adalah perempuan yang cerdas dan baik. Kak Dinda perlahan-lahan mengambil hati ibu, setiap Mas Rayi membawanya main ke rumah. Ayah merasa tenang melihat ada yang mampu menjadi tambatan dan tujuan bagi Mas Rayi. Aku pun senang karena pada Kak Dinda aku mendapatkan seorang kakak perempuan.

 

Idealisme Mas Rayi untuk menolong orang lain tak pernah lekang. Terkadang aku kuatir kakakku memiliki superhero complex. Dia kerap tak mengindahkan dirinya sendiri demi menolong orang lain. Mungkin ini salah satu alasan Mas Rayi segera bergabung dengan MSF sesaat setelah menyelesaikan pendidikan sebagai ko-asisten. Tanpa restu ayah, kakakku tetap berangkat untuk bergabung.

Beberapa bulan kemudian Mas Rayi mengirimkan kartupos ke rumah kami, mengabarkan kalau dia sehat dan baik-baik saja. Terlihat kebanggaan memancar dari senyum lebar ayah kala dia membaca isi kartupos. Bulan-bulan selanjutnya kami rutin menerima kartupos Mas Rayi yang selalu terkirim dari daerah-daerah konflik. Mulai dari perbatasan Bangladesh dan Myanmar, hingga dari suatu tempat di Afrika Utara. Ayah dan ibu tentunya cemas. Untungnya Kak Dinda, yang kini rutin berkunjung, selalu mampu menenangkan kedua orangtuaku.

Setelah beberapa tahun berpacaran yang sesekali diselingi hubungan jarak jauh, akhirnya tiba hari di mana Mas Rayi melamar Kak Dinda. Ayah dan ibu sangat gembira mendengar kabar ini. Mereka berharap, setelah menikah Mas Rayi tak lagi menempuh karir yang berisiko tinggi dan fokus membina rumahtangga. Mungkin Mas Rayi dan Kak Dinda akan membeli rumah tak jauh dari orangtuaku. Menghadiahkan cucu satu atau dua orang.

 

Sejak meninggalkan MSF Mas Rayi bekerja di sebuah rumahsakit di kota kami. Bukan sebuah rumahsakit besar, hanya sebuah fasilitas milik pemerintah yang banyak melayani pasien dari masyarakat kelas bawah. Saat aku bertanya alasannya, Mas Rayi berkata di tempat ini dia jadi memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan acara pernikahan. Setelah beberapa kali tinggal berjauhan, aku ingin memberikan pernikahan yang terbaik bagi Dinda, kata kakakku. Mendengar jawaban itu aku hanya menyunggingkan senyum. Aku percaya Mas Rayi menginginkan acara pernikahan yang tak terlupakan sebagai hadiah bagi Kak Dinda. Tapi aku juga tahu kalau di tempat ini Mas Rayi justru lebih sibuk bekerja menolong pasien-pasien. Di saat itu aku berharap kakakku dapat meluangkan lebih banyak waktu bagi Kak Dinda dibanding pada pekerjaannya, kelak setelah mereka menikah.

 

Lalu wabah itu terjadi.

 

Aku masih ingat melihat berita di televisi yang tergantung di dinding sebuah butik pakaian pernikahan. Aku sedang menemani Kak Dinda memilih-milih baju. Seorang pembaca berita mewartakan tentang wabah yang terjadi di sebuah negara. Sama seperti berita-berita lainnya tentang kejadian di pelosok dunia, saat itu aku tak terlalu ambil pusing. Walaupun di berita disebutkan bahwa tren peningkatan jumlah penderita infeksi virus cukup mengkuatirkan dan negara tersebut mempertimbangkan aksi yang cukup drastis untuk menghentikan penyebarannya. Aku dan orang-orang yang menyaksikan berita masih berpikir bahwa peristiwa yang terjadi ribuan mil jauhnya itu tidak akan berdampak bagi kehidupan kami. Betapa salah pikiranku saat itu.

Yang terpikirkan saat itu justru Mas Rayi. Aku takut dia tergerak untuk berangkat ke lokasi di berita tadi. Tapi beberapa hari kemudian saat aku dan Kak Dinda melakukan pengepasan di butik yang sama, Kak Dinda berkata kalau dia juga penasaran dan sempat menanyakan hal yang sama. Mas Rayi bilang ke Kak Dinda, tempat pengabdianku sekarang di sini, di dekat kamu.

Tak berselang lama, berita yang sama kembali aku lihat di internet. Bedanya kali ini kejadiannya adalah di tanah air. Virus itu telah menjangkiti negeri ini, setelah sebelumnya dilaporkan ada di negara-negara lain di dunia. Sebuah pandemi tengah berlangsung. Aku dapat menebak apa yang akan terjadi kemudian.

Tak sampai dua pekan setelah berita itu Mas Rayi telah kembali berjuang di daerah berbahaya. Wabah mulai merayap ke setiap pelosok negara ini, mencengkeram erat kota kami. Tanpa keraguan kakakku menawarkan diri untuk menjadi petugas medis darurat sukarela. Dia segera ditempatkan di rumahsakit yang paling banyak menangani pasien positif. Adalah sia-sia memintanya untuk tak terlibat. Kakakku terlalu idealis untuk tak bergerak di masa krisis.

 

Pemerintah akhirnya mengumumkan situasi darurat, setelah mendapat kritik bertubi-tubi dari masyarakat dan jumlah korban harian yang terus meningkat. Kegagalan pemerintah mengurangi lalulintas keluar masuk manusia di awal-awal pandemi menyebabkan ada begitu banyak kasus tak terdeteksi. Pasien tanpa gejala yang tanpa sadar terus menyebarkan virus di lingkungannya. Ke rekan kerja, kolega, dan keluarga. Mas Rayi mengeluh bahwa rumahsakit tempatnya bekerja sudah mulai kewalahan. Dia berharap orang-orang benar-benar patuh dan tidak keluar rumah, karena hampir seluruh fasilitas kesehatan tak mampu lagi menampung pasien. Mereka kekurangan fasilitas, peralatan, dan staf. Kalau saja pemerintah segera menerapkan karantina wilayah, keluh Mas Rayi.

Malam itu aku pertama kali melihat Mas Rayi menangis sesegukan. Ketersediaan ventilator di tempatnya bertugas sudah menipis. Siang itu kakakku terpaksa mengambil keputusan berat, memberikan alat yang tersisa ke salah satu pasien yang memiliki harapan hidup lebih tinggi, dan membiarkan pasien lain berjuang tanpa alat. Aku hanya bisa merangkul kakakku. Mas Rayi yang semenjak kami kecil selalu terlihat kokoh, malam itu begitu rapuh dan berantakan.

Hari-hari selanjutnya tetap tak ada perbaikan, malah semakin buruk. Kakakku tak lagi dapat pulang ke rumah. Pemerintah menempatkan seluruh tenaga medis di sebuah bangunan bekas hotel atlet. Tujuannya agar para staf rumahsakit dapat lebih cepat berada di lokasi, serta meminimalkan kontak antara mereka dengan orang lain sekiranya telah tertular namun tanpa gejala.

Setiap ada kesempatan kami melakukan panggilan video dengan Mas Rayi. Sekadar menanyakan kabar dan menjaga semangatnya. Di percakapan-percakapan kami Mas Rayi kerap mengeluhkan kondisi di fasilitas kesehatan, terutama ketersediaan Alat Pelindung Diri bagi kolega-koleganya. Mereka terpaksa menggunakan apa saja yang tersedia untuk melindungi diri. Sama sekali jauh dari ideal, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Belum lagi pasokan ventilator, obat-obatan, dan alat monitor kondisi vital, yang ketersediaannya tak dapat mengejar jumlah pasien yang terus bertambah.

Tapi tak sedikitpun kami melihat Mas Rayi patah semangat. Hasratnya untuk terus berbakti, mengabdi, dan menolong masih menyala. Tak peduli sesulit apapun keadaannya.

Suatu hari aku mendapati Kak Dinda menangis saat sedang menelepon Mas Rayi. Aku sempat mendengar Kak Dinda bertanya pada kakakku kapan dia akan pulang ke rumah. Kak Dinda bertanya kapan Mas Rayi dapat mengambil cuti untuk melangsungkan pernikahan mereka. Mas Rayi cuma menjawab: sesegera mungkin. Kak Dinda dapat memahami situasi yang dihadapi Mas Rayi, dia memahami karakter kakakku lebih baik daripada siapapun. Namun ada keputusasaan dalam pengertiannya.

 

Hari-hari berikutnya bagaikan kaos. Masyarakat gelisah menghadapi wabah yang bagai tiada akhir. Perekonomian goyah hingga ke fondasinya. Jumlah warga yang harus hidup dari bantuan meningkat pesat. Berita-berita kerusuhan kini menemani berita-berita tentang wabah. Pemerintah menerapkan situasi darurat di banyak kota. Di dalam segala kekacauan ini kami masih mampu bertahan. Hingga datanglah pukulan yang membuat kami lunglai tak berdaya.

Saat Mas Rayi diketahui positif, kondisinya sudah terlalu lemah. Dia segera dimasukkan ke Unit Perawatan Intensif. Aku dan kedua orangtuaku bergegas menuju rumahsakit begitu mendengar kabar ini. Di sana sudah ada Kak Dinda, mencoba untuk tetap tegar dan optimis, walau Mas Rayi sudah memasuki tahap kritis.

Di sana kami bahkan tak dapat menjenguknya. Kami hanya dapat melihat Mas Rayi melalui monitor video di ruang pengunjung pasien. Dia sudah terlalu lemah untuk berkomunikasi melalui ponsel. Sisa tenaganya dia gunakan untuk mengirimkan satu pesan terakhir.

Dik, tolong tetap tabah dan kuat. Untuk ibu dan ayah. Aku titip Dinda ya.

Kiranya adalah kombinasi kelelahan, stres, dan infeksi virus. Keesokan harinya kakakku berpulang. Sendirian di kamarnya. Hanya tiga hari sebelum hari pernikahannya.

 

Itu alasan kenapa kami semua mengenakan pakaian putih di depan pusara Mas Rayi. Benar, kesedihan ini tak ada obatnya. Aku tak sanggup membayangkan kesedihan orangtuaku yang ditinggal lebih dulu oleh anak mereka. Aku juga tak dapat membayangkan perasaan Kak Dinda yang harus ditinggal kekasih menjelang hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling bahagia dalam hidup mereka berdua.

Itu sebabnya kami ingin hari ini menjadi hari yang layak dikenang. Kami ingin hari ini menjadi hari yang istimewa. Hari di mana kesedihan terbasuh oleh rasa bangga, karena kami semua yang ada di sini bangga telah menjadi bagian dari hidup Mas Rayi. Sebuah hidup penuh arti, sayang terlalu singkat. Saat ini aku tak merasa kehilangan seorang kakak. Aku hanya meminjamkannya pada surga. Aku di sini mengantarkan keberangkatan seorang pahlawan.

Sampai jumpa lagi, Mas Rayi.

 

 

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Foto oleh Dominik Schröder di Unsplash

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.