Bersama

Tak terasa empat tahun telah kulewati di sekolah ini. Aku tidak ingin terdengar klise, tetapi kehidupan remaja tipikal yang penuh suka dan duka banyak kualami di sini, di Alexander Hamilton Memorial High School. Layaknya kehidupan remaja, kami melakukan banyak hal untuk pertama kalinya. Berkencan, berpesta, berurusan dengan polisi, kabur dari sekolah, mabuk-mabukan.

Pembawa acara masih memanggil para wisudawan untuk naik ke panggung, menerima ijazah dari kepala sekolah. Aku menoleh ke arah ibuku. Wajahnya bersinar di bawah terpaan matahari musim panas. Dia balas menatapku dan tersenyum. Pipinya merona merah di bawah sinar matahari. Dulu pipi itu juga yang basah oleh air mata akibat ulahku di sekolah ini.

Aku masih ingat ibu menangis saat kami berada di ruang kepala sekolah 4 tahun lalu, hanya dua bulan setelah aku bersekolah di sini. Kerut-kerut di wajahnya terlihat semakin dalam. Suaranya terbata-bata menahan isak tangis. Matanya kehilangan sinar, sinar yang selalu dapat membuatku nyaman. Saat itu aku hanya bisa menunduk dan menyembunyikan kepalanku yang berlumur darah.

Lanjutkan membaca “Bersama”

Ulir Ganda Biner

“Mas Dhani?”
“Betul, Pak. Silakan naik.”
“Terima kasih.”

Pengemudi Uber ini masih muda. Mungkin tidak terlalu jauh jarak usianya dengan anakku yang sulung. Aku cukup beruntung bisa segera mendapatkan kendaraan. Akhir-akhir ini layanan Uber sudah mulai susah didapatkan.

“Kebetulan tadi saya baru pulang mengantarkan anak ke sekolah. Lokasinya di dekat mobil bapak tadi mogok,” ujarnya sesaat setelah aku masuk ke mobil. Pembawaannya yang bersemangat membuat kepenatanku sedikit menguap.
“Iya. Saya tadi sudah khawatir bakal menunggu lama.”
“Ada masalah apa, Pak? Piranti lunak atau keras?” tanyanya, masih bersemangat.
“Sepertinya lunak. Saya sedang membaca berita pagi ini saat tiba-tiba sistem mengeluarkan peringatan dan meminggirkan mobil ke sisi jalan.”
“Ah, mobil-mobil baru. Ada saja masalahnya,” tambahnya sambil tersenyum lebar. Aku hanya bisa tersenyum kecut.
“Bapak tadi hendak menuju ke mana?” pemuda itu kembali membuka percakapan. Aku tidak keberatan. Walaupun sering kali aku lebih senang hanyut dalam lamunan.
“Rencananya saya akan ke perpustakaan pusat di balai kota,” jawabku.

Lanjutkan membaca “Ulir Ganda Biner”

Di Belakang Warung, Di Pinggir Hutan Jati

Tangannya yang kasar mulai menggerayangi kutangku. Ia selipkan ujungnya jarinya ke dalam. Aku hanya diam saja. Kepalaku agak pening malam ini. Telah habis semangat untuk melayani.

“Huh. Kau dingin sekali. Sayang sekali hanya warungmu yang masih buka.”

Dari suaranya ia nampak kesal. Tapi apa daya, aku sebenarnya sudah lelah. Malam pun sudah larut. Aku tak ingin menerima pelanggan lagi, tetapi aku butuh uangnya.

Lanjutkan membaca “Di Belakang Warung, Di Pinggir Hutan Jati”

Ketumbi

Lapas Kembang Kuning, Pulau Nusa Kambangan, pukul 10 pagi lewat 4 menit. Iringan tiga mobil dengan stiker Kejaksaan Agung memasuki pelataran. Aspal masih basah oleh hujan gerimis yang mengguyur pulau semenjak fajar. Di kejauhan terdengar lolongan lutung Jawa, mewartakan bahaya yang mengintai.

Tak lama setelah iringan berhenti, dua orang nampak turun dari kendaraan yang paling depan. Gerakan mereka cepat dan terukur, layaknya anggota pasukan khusus. Salah satu mengambil posisi di kanan iringan. Pandangannya menyapu, mengawasi perimeter. Rekannya membukakan pintu penumpang sedan hitam yang ada di tengah. Seorang pria berusia sekitar empat puluhan, dengan kemeja putih bergegas turun.

Pria tersebut berjalan cepat. Orang-orang Lapas yang menyambut tak digubris. Ada kegelisahan pada raut wajahnya. Ia terus saja berjalan masuk. Para petugas Lapas berlari kecil berupaya mengikuti.

Ia tiba di sebuah ruang yang tak terlalu luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Satu-satunya sumber cahaya adalah sebuah jendela berjeruji setinggi dua setengah meter dari lantai. Sinar matahari menyelinap masuk. Sebuah meja dan kursi berada di tengah ruangan. Pria tersebut duduk menghadap pintu. Pintu itu terbuat dari baja dengan jendela kecil yang hanya dapat dibuka dari luar.

Lanjutkan membaca “Ketumbi”

Sirius

Stasiun Angkasa Hawking, 14 Juni 2078

“Kolonel, bagaimana situasi kokpit?”
“Semuanya lancar, Guiana. Kita siap untuk meluncur.”
“Bagus, Kolonel. Kami akan terus memonitor hingga urutan peluncuran utama.”

Sudah satu minggu aku di sini. Lambaian tangan Leyla masih membekas di benak. ‘Ayah, bawakan aku bintang ya,’ ucap gadis kecilku saat itu. Senyumannya mampu menghapus keraguan, bersamaan dengan merekahnya kerinduan.

Beberapa saat lagi persiapan untuk keberangkatanku akan berakhir. Pengisian bahan bakar telah selesai. Konfigurasi warp drive telah ditetapkan. Tidak ada lagi waktu untuk turun kembali ke Bumi.

Lanjutkan membaca “Sirius”