Dilasi

Aku belum terbiasa bangun di pagi hari lalu menatap antariksa di luar jendela. Aku ingin dibangunkan oleh sinar matahari dan bukan cahaya buatan di kamar ini. Mereka bilang beberapa hari ke depan aku akan diperbolehkan untuk turun dari orbit. Kembali ke permukaan. Tentu, di bawah sana sinar matahari tersedia berlimpah. Tapi tetap saja ada yang berbeda.

Dari sini, planet itu masih terlihat sama. Bagiku seperti baru kemarin.

Masih segar dalam ingatan saat aku dan pesawatku meninggalkan orbit Bulan. Saat tiba-tiba sensor memperlihatkan kejanggalan. Sebuah medan gravitasi raksasa muncul begitu saja. Aku mengontak pangkalan, mereka tak mendeteksi apa-apa. Namun tak perlu sensor pesawat untuk melihat apa yang ada di luar sana. Obyek itu menarik laksana sebuah lubang hitam. Tapi bagaimana mungkin sebuah lubang hitam tiba-tiba muncul tak jauh dari orbit Bulan? Sistem pesawat berhenti begitu saja, seolah membeku dalam waktu. Lalu kemudian yang kuingat hanyalah hitam dan sunyi.

Mereka bilang pesawatku ditemukan terombang-ambing di salah satu satelit Jupiter. Aku ditemukan pingsan di kokpit. Kondisi fisikku normal. Hanya seperti orang yang tak sadarkan diri beberapa jam. Saat terbangun, aku telah berada di kamar ini. Delapan puluh tahun di masa depan.

§

Aku adalah pengungsi waktu. Tanah airku ada di suatu masa, bukan di suatu tempat. Dan keterasingan ini terasa semakin nyata saat aku untuk pertama kali keluar dari kamar. Di ruang rekreasi mereka memberiku akses informasi. Dan di saat itulah kepelikan nasibku menghantam keras.

Semua yang aku kenal, semua yang aku kasihi, semuanya telah tiada. Sirna ditelan masa. Di ruang itu aku duduk terdiam berjam-jam,berharap ini semua cuma mimpi buruk. Aku bahkan berharap kalau aku cuma sedang berada dalam koma, bahwa semua ini cuma aktivitas otakku. Dengan begini setidaknya berarti keluargaku masih ada.

Namun aku perlahan mulai menerima fakta. Lalu kesunyian menjadi bermassa. Setiap tarikan nafas terasa bagai menghisap duri. Tubuhku seperti terselimuti lumpur pekat. Menjalar sedikit demi sedikit, dari kaki, ke badan, ke kepala. Perlahan panca inderaku tenggelam.

§

Mereka mengabarkan karantina telah usai. Aku diperbolehkan pulang. Kemana, aku belum tahu. Aku menunggu di sebuah ruangan di atas labuhan ulangalik. Terlihat belasan wahana antariksa lalu-lalang. Tidak ada yang seperti ini di kehidupanku dulu. Lalu mataku tertumbuk pada satu-satunya yang dapat aku kenali di dunia asing ini. Tertambat dan terbungkus di sebuah sudut. Aku harus mendatanginya, satu-satunya temanku yang tersisa.

Aku meletakkan tanganku di panel kunci. Hanya ada dingin. Harapanku menyurut. Akan tetapi tiba-tiba aku merasakan getaran. Mesinnya menyala. Aku dapat merasakan sirkuitnya kembali dialiri elektron. Pesawatku terbangun dari tidur.

Selamat pagi, kapten,’ sapanya, sebuah kumpulan subrutin yang membentuk intelejensia buatan. Di saat itu aku segera tahu apa yang harus kulakukan.

§

Stasiun antariksa ini adalah sebuah kota di orbit. Labuhannya ramai dan sibuk. Tak terlalu sulit untuk menyusup masuk ke dalam pesawatku. Mungkin karena teknologinya yang terlalu tua mereka tak terlalu paham dengan cara kerjanya. Dan mungkin juga karena kami bukan prioritas penting di stasiun penambangan ini. Kesempatanku untuk pergi adalah sekarang. Sebelum pasukan dari permukaan sampai dan menjemputku.

“Komputer, tampilkan data sensor,” perintahku begitu berada di dalam kokpit. “Masukkan koordinat terakhir ke sistem navigasi.”

Aku dapat merasakan getaran di kokpit saat turbin pesawat mulai menyala. Kuarahkan pesawat ke gerbang, tuas akselerasi kutarik penuh. Turbin meraung keras. Orang-orang segera menyadari ada yang tak beres. Peringatan pengawas labuhan kuindahkan, pesawatku melesat keluar. Di luar aku melihat planet biru itu. Akrab sekaligus asing.

Di belakang aku dapat melihat beberapa pesawat pengangkut bertumbukan. Semoga tidak ada korban. Aku sungguh tak ingin mencelakakan siapapun. Aku hanya ingin pulang.

Pesawatku tinggal beberapa ribu kilometer orbit Bulan saat sebuah pesan masuk ke dalam sistem komunikasi. Skuadron pencegat mengejar dan semakin mendekat. Pemimpinnya memberi peringatan agar aku berhenti. Tembakan peringatan berdesing di kiri kanan kokpit. Orang itu tidak main-main.

Sensor mendeteksi anomali, Kapten,’ ujar komputer pesawat.

Aku tak tahu apa yang memicunya. Aku tak tahu apakah ada hubungannya denganku. Tapi obyek misterius itu kembali ada di sana. Sama seperti terakhir aku melihatnya. Komputer juga memberi tahu kalau skuadron menghentikan pengejaran. Pesawat mereka mundur. Terus terang aku pun ragu untuk melanjutkan. Keraguan berubah menjadi ketakutan saat sirene tanda bahaya di dalam kokpit meraung-raung.

Tapi aku tak punya pilihan. Masa ini bukan tempatku. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui jalan aku masuk. Aku melepaskan kendali bersama pesawat yang meluncur ke dalam pusat obyek misterius.

§

Saat terbangun, yang pertama aku lihat adalah kegelapan. Untuk sedetik aku mengira aku kembali berada di kamar di stasiun orbital. Tetapi kegelapan ini berbeda. Tak ada bintang. Tak ada suara. Seolah aku berada di dalam sebuah ruangan raksasa yang seluruh dindingnya terlapisi kain hitam pekat.

Aku melihat diriku mengapung di tengah kegelapan. Seolah-olah mataku adalah sebuah kamera yang mengambang mengapung di atas kepala. Belum selesai rasa terkejutku, aku lantas melihat beberapa salinan diriku. Belasan, puluhan, ratusan. Bagai melihat melalui mata jamak. Bila penglihatan adalah hasil penerjemahan otak akan stimulasi fotonik, maka aku mengolah foton dari lensa tak terhingga dan dari waktu-waktu berbeda. Sekarang, sebelumnya, nanti. Aku melihat diriku berjalan sebelum aku berjalan. Setiap langkah adalah individu baru. Aku adalah dia. Aku, dia, adalah kami. Mereka adalah aku, satu entitas yang mengisi ruang dan waktu yang berbeda-beda. Ini terasa janggal namun jamak di saat bersamaan. Seperti saat aku pertama kali mampu seimbang di atas dua roda sepeda. Kemampuan itu yang ada dari tiada begitu saja. Seolah aku memang terlahir untuk mempersepsi seluruh versi ruang dan waktu. Aku teringat pada gim-gim video retro di mana karakter musuh bergerak dalam pola tertentu. Sang pemain lama kelamaan akan mampu melihat seluruh gerakan karakter tersebut di masa depan, bagai sebuah bentuk yang menjulur dalam waktu alih-alih ruang. Aku pun sama, melihat langsung setiap bentuk dalam waktu, secara nyata.

Aku tak tahu berapa lama aku berada di sini. Namun itu tidak ada artinya karena di sini tak ada waktu. Aku menyapu pandanganku ke berbagai arah dan seluruh masa. Di kejauhan aku menemukan secercah cahaya.

Aku berjalan selama milyaran tahun. Atau sedetik, aku tak tahu, karena tiada bedanya bagiku. Dari dekat aku menyadari kalau cahaya itu adalah satu titik di ujung sebuah rantai yang sangat panjang, yang ujungnya lebih jauh dari jalan yang aku tempuh sebelumnya. Aku dapat merasakan energi sangat besar terpancar dari titik itu, mendistorsi ruang di sekitarnya mengerucut begitu tajam. Bila seluruh tata surya digelincirkan ke kerucut menuju titik cahaya, maka seluruh isinya akan terhisap lebih cepat dari petir yang menyambar bila awan menggantung setinggi mata kaki. Sebuah konsentrasi energi yang tak terperi.

Perlahan-lahan aku memahami sifat rantai ini. Dalam kotak persepsiku sekarang, satu milyar tahun dan sepermilyar detik tak ada bedanya. Saat waktu hanyalah sebuah ruang yang bisa dijelajahi, waktu mengikuti langkah kaki. Dan saat aku melangkah lebih cepat, aku dapat melihat bahwa rantai tersebut adalah rentetan peristiwa. Bila film adalah rangkaian gambar diam yang digerakkan dengan cepat sehingga menghasilkan ilusi gerakan, maka rantai di depanku adalah kebalikannya. Rantai ini adalah sebuah peristiwa yang tertambat dalam kotak-kotak waktu, menciptakan ilusi obyek diam.

Langkahku adalah langkah waktu. Aku dapat melihat peristiwa ini terjadi saat setiap kotaknya dialirkan dalam sungai masa. Dan dalam aliran masa, rantai ini adalah sebuah ledakan. Ledakan yang tertambat dalam kotak-kotak waktu di mana satu detik teriris menjadi trilyunan bagian.

Aku biarkan rantai itu mengalir. Membesar, memuai, mengembang. Awalnya hanya ada api. Setiap mata di dalam rantai itu mengembang begitu luas, ia tak lagi terlihat seperti rantai. Awalnya hanya ada api, lalu cahaya, lalu kabut menyilaukan. Membosankan. Aku berjalan lebih cepat, penasaran dengan akhir cerita di ujung rantai. Setelah berjalan beberapa milyar tahun, segalanya mulai tampak menarik. Ruang ini mulai mengingatkanku pada langit malam. Penuh titik-titik cahaya, bagai permata di kain beludru. Berwarna-warni dan cerlang. Bertabrakan, meledak, dan terlahir kembali. Bagai pesta kembang api seluas milyaran tahun cahaya.

Di tempat ini tak ada yang tertutup bagiku. Saat kau berada di dimensi yang lebih tinggi, tak ada penghalang bagi obyek di dimensi lebih rendah. Bayangkan sebuah kertas kosong. Kau menggambar sebuah lingkaran besar, lalu kau menggambar sebuah lingkaran lebih kecil di dalamnya. Bagi makhluk dua dimensi yang hidup di permukaan kertas dan berada di luar lingkaran besar, si lingkaran kecil tidak akan terlihat, terhalang dinding-dinding lingkaran besar. Namun bagi makhluk yang berada di dimensi lebih tinggi, seluruh lingkaran di kertas terlihat bersamaan. Itu sebabnya tidak ada yang tersembunyi bagiku di semesta ini. Bagiku bola kecil yang tersimpan di dalam bola besar terlihat bersamaan. Janin dan ibunya terlihat bersamaan. Dan saat kau berada di dimensi waktu yang lebih tinggi, seluruh garis hidup si janin hingga ia mati terhampar di depan mata.

Beberapa milyar tahun terlewati saat aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang baru. Derau di kejauhan. Bukan suara bintang yang meledak atau dengungan bintang gasing berputar kencang. Derau ini jauh lebih pelan, seragam dalam nada dan artikulasinya.

Di sebuah sistem bintang ganda aku menemukan planet yang menghasilkan suara-suara tersebut. Semakin aku dekati suara-suara itu semakin keras tapi jelas bukan satu-satunya sumber. Ada derau-derau lain yang masih terdengar. Beberapa terdengar jauh, begitu jauh aku melihatnya di sisi pemuaian mata rantai. Aku mendatangi sumber terdekat berikutnya, sebuah sistem yang mengitari sebuah bintang kuning, dari sebuah kelereng biru diselimuti kapas putih.

Aku berdiri mengamati, tak jauh dari batu putih yang mengitarinya. Mulai dari malam-malam yang gelapnya absolut, hingga malam-malam yang ditaburi cahaya. Ada sesuatu yang membuat planet ini terasa begitu akrab. Tapi aku tak tahu apa. Dan itu tidak penting. Aku terbuai oleh suara-suara yang keluar dari permukaannya. Suara-suara yang memohon, mengumpat, memuji, menangis, dan meminta. Di masa lalu, di setiap saat, di masa yang akan datang. Mereka yang ada di sana adalah pemilik suara-suara yang tak pernah puas. Bahkan hingga suaranya terakhir.

Lalu planet itu sunyi.

Aku pun pergi mencari sumber-sumber suara lain untuk kudengarkan. Sampau ke ujung rantai, trilyunan tahun di ujung masa. Dan semua ku ulangi lagi dari awal. Melangkah mengikuti ledakan, menyimak suara-suara yang memanggil. Terus dan terus, terulang tak terhingga.

Kejenuhan pun menghinggap. Setelah menyimak jutaan peradaban aku berpikir kalau keabadian adalah sesuatu yang membosankan. Tapi aku terus berkelana.

Di sana, di dekat sebuah kerikil putih yang mengitari kelereng biru, aku menemukan awal siksaan ini. Aku dapat melihat sebuah wahana besi yang berisi sebuah makhluk organik bergerak mendekati sebuah robekan ruang. Skena ini sudah berlangsung berkali-kali dengan hasil yang sama.

Aku tak pernah ikut campur dengan semesta ini atau penghuninya, tak peduli sekeras apa mereka bersuara. Tapi kali ini aku memilih untuk ikut campur.

Pesawat itu berada di mulut robekan ruang semesta. Aku dapat melihatnya meluncur melalui tabung, memasuki jejaring pembuluh waktu. Aku meraihnya, menariknya keluar. Keluar dari ruang, waktu. Keluar dari keberadaan.

Lalu semua menjadi gelap. Aku melihat diriku perlahan terurai. Menyublim menuju ketiadaan. Dan akhirnya semua usai.

 

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Foto oleh Mario Azzi di Unsplash

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.