Kotamu

Aroma petrikor menggelitik nostalgia menyambut kedatanganku. Jalanan masih basah oleh hujan muson, orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan. Matahari berselimut awan. Sedikit sinarnya menyelusup, tetapi tidak cukup banyak untuk menghangatkan sore yang dingin ini. Seolah tak ada yang pernah berubah. Ya, sama seperti dulu. Sama seperti ingatan pertamaku akan kota ini. Lebih dari dua […]

Payung

Kopi di cangkir tak lebih dari satu buku jari. Aku masih enggan pergi. Angin musim semi menusuk kulit, seiring rintik hujan mulai berderai. Setiap hembusan angin yang membelai, setiap butir air yang menerpa, ingatan akan dirinya tersusun. Keping demi keping. Semakin jelas, semakin mengiris. Kerinduanku untuknya, rasa sakit yang menagih.