Waskat

“Kita cuma menambahkan satu kolom saja,” ujar laki-laki yang dengan rokok di tangannya. Tangannya yang satu lagi merogoh saku, mencari korek.

“Kau yakin ini bisa kita jalankan?” tanya sobatnya yang sibuk memainkan pena.

“Sudah mulai pikun rupanya. Kau dahulu tim informasi program serupa. Penyedia strategi yang paling kami andalkan di lapangan,” ia menyalakan korek gas berlapis perak dengan sebuah simbol terpatri di sisi-sisinya. “Ingat kau, di zaman tidak ada orang yang berani menyentuh kita?”

“Sial. Tentu aku masih ingat. Tetapi zaman berubah, bung.”

“Tentu, zaman berubah. Target kita pun berubah. Bertambah pintar, bertambah kaya. Tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah berubah,” ia menghisap rokoknya dalam-dalam, “mereka masih tetap mudah ditakut-takuti.”

Laki-laki itu menekan-nekan tombol di ujung penanya. Matanya menatap lekat kertas-kertas di depannya. Beberapa peta, dokumen-dokumen di dalam map, dan buku catatan. Bagaikan elang mencari mangsa di luasnya padang, di antara rerumputan tinggi, pandangannya bergerak menyisir. Pembawa kematian dari langit yang sanggup menerkam tanpa tanda-tanda. Selama puluhan tahun ia berkarir, satu hal yang amat ia banggakan adalah kalkulasinya yang tak pernah salah. Eksekusi, itu keahlian sobatnya.

“Yang paling indah dari rencana ini adalah ia bagai hadiah yang jatuh dari langit. Kita berdua tak mungkin bisa mewujudkan ide yang mengawali ini semua. Sarana bagi warga untuk saling mengawasi di antara mereka sendiri dan melaporkannya pada aparat. Durian runtuh,” laki-laki itu terkekeh. Tawanya sedikit terganggu oleh batuk akibat asap rokok. “Dan tiba-tiba program ini begitu saja tersedia, untuk kita eksploitasi.”

“Ya, orang-orang malang itu tak pernah bisa melihat potensinya. Bahayanya.” Sebuah senyum kecil di wajahnya, hampir tak terlihat, “tidak seperti kita.”

“Program ini dicanangkan oleh sang sosok idola. Tak ada mereka merasa perlu untuk melihat kelemahannya.” Laki-laki dengan rokok itu cuma tersenyum, khawatir tawa lepas akan membuatnya kembali terbatuk-batuk.

Laki-laki berpena kembali mencoret-coret buku catatannya, menandai beberapa poin. Sikap obsesif, selalu membuat daftar untuk apa saja, telah beberapa kali menyelamatkan lehernya. Dalam bidang pekerjaan ini, ia berpikir, persiapan adalah kunci. Walau usianya sudah melewati masa senja, saat kematian karena pekerjaan berkemungkinan jauh lebih kecil, ia tetap setia pada kebiasaan itu.

“Kita tidak memiliki sumberdaya sebanyak dulu. Kita harus memanfaatkan elemen-elemen populasi,” laki-laki itu mematikan rokoknya di asbak. Ia harus sedikit menekan puntung, permukaan asbak dipenuhi oleh abu.

“Tentu. Laporan dari timku di lapangan memperlihatkan banyak potensi yang bisa kita manfaatkan. Beberapa dari mereka bahkan telah memperlihatkan kecenderungan militansi. Pemuda-pemuda pengangguran dengan delusi grandeur, pensiunan-pensiunan tua dengan sindrom pasca-kekuasaan, mereka akan mudah menerima doktrinasi yang sudah kita siapkan.” Ia membolak-balikan halaman, lalu menulis catatan-catatan singkat di bukunya. “Aku sudah punya beberapa nama kandidat. Mereka akan melakukan apa saja. Apa saja demi merasakan segenggam kekuasaan atas nasib orang-orang yang tidak mereka sukai. Apakah itu atasannya di kantor, saingannya dalam percintaan, atau sekedar tetangga yang menyebalkan.” Ia meraih gelas berisi kopi yang tinggal setengah di ujung meja. “Penjahat akan dengan senang hati menggunakan patriotisme sebagai alasan atas perbuatannya.”

Sobatnya menyalakan sebatang rokok baru, “lengkap kalau begitu. Kau tinggal mengirimkan draf Rapor Perilaku dan Sikap Warga Negara terbaru ini ke anak buahmu, dan kita akan berlanjut ke fase dua.”

“Apakah kau hendak menambahkan sesuatu ke kalimat di kolom terbaru ini?”

“Coba kulihat,” ia merogoh kacamata di saku kemeja. “‘DICURIGAI MEMILIKI AKTIVITAS BERALIRAN KIRI‘. Hmm, aku rasa ini sudah bagus. Jangan membuatnya terlalu kompleks. Segmen target kita bukan orang-orang lulusan sekolah di luar negeri, hahaha…” ia kembali terkekeh, kali ini diikuti batuk-batuk berkepanjangan. Tapi wajahnya menunjukkan kepuasan.

§

Beberapa tahun kemudian, mereka yang masih berkesempatan untuk bercerita, sepakat bahwa itu adalah awal dari petaka yang melanda. Bola api yang telah lama padam sengaja kembali digulirkan. Awalnya, penangkapan-penangkapan berdasar aduan menjadi hal yang dibicarakan khalayak ramai. Stasiun televisi & situs berita tanpa henti menyiarkan mereka yang mendapatkan rapor merah. Para pengamat politik karbitan di media sosial berlomba-lomba mengajukan teori-teorinya.

Tapi lama-kelamaan mereka bosan. Penangkapan-penangkapan menjadi hal yang lumrah. Setiap hari, dari sudut-sudut ladang pedesaan, di bawah bayang-bayang gedung perkotaan, muncul pengaduan-pengaduan baru. Awalnya mereka yang dilaporkan bisa dibilang ‘beruntung’, karena bisa sampai ke sel-sel pihak yang berwenang. Tetapi rasa takut yang menjalar, akan adanya hantu jahat yang bersemayam di tengah-tengah masyarakat, terus membesar bagai bola salju. Menjadi-jadi bagai bara tertiup angin. Histeria, paranoia, orang-orang pun hilang akal, hilang rasio. Mereka semakin mudah diarahkan, digerakkan, dikendalikan.

Rasa takut bermuara pada kebencian. Dan kebencian dengan mudah melahirkan kebiadaban. Pengaduan-pengaduan tak lagi menghasilkan penyakitan baru untuk bersemayam di balik jeruji besi. Pengaduan-pengaduan kini sekedar menjadi aksi pembukaan untuk hajatan besar, arak-arakan massa. Tak butuh waktu terlalu lama untuk jalanan kembali dibasahi oleh darah kering yang menghitam. Membuat udara sesak oleh bau daging terbakar. Membuat hanya gagak yang rela hinggap di pepohonan, berlomba mematuk secuil daging dari sosok-sosok hantu yang menggantung di dahan-dahan seluruh negeri.

 

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.