Bhairava di Hutan Swarnadwipa

Bukit Seguntang, Abad 8

Matahari berada tepat di atas kepala. Para pedagang dan musafir lalu lalang di jalan raya yang menghubungkan ibukota dan jalur utara. Pedati dan gerobak berbagai ukuran dengan berbagai macam muatan melintas tanpa henti. Sebagian besar dari mereka bergerak menuju pelabuhan besar di sungai Musi.

Seorang pemuda berjalan memasuki sebuah warung di tepi jalan. Ia datang dari arah kota. Caping lebar di kepala melindunginya dari terik matahari. Sepotong kain menutupi wajah. Sebuah bungkusan besar di punggungnya. Di pinggangnya ia mengenakan sebuah sabuk kulit dengan banyak kantung, berisi beberapa benda-benda yang tidak lazim. Pakaiannya pun sedikit berbeda dari orang-orang di sini. Beberapa dari mereka yang berpapasan di jalan menatapnya dengan curiga dan rasa penasaran.

Ia mengambil tempat di seberang dua orang laki-laki yang sedang menikmati minuman. Sebilah keris terselip di pinggang laki-laki yang lebih tua. Sebuah codet melintang di wajahnya. Sementara di sebelahnya seorang laki-laki sepantaran si pemuda. Sebatang tombak dengan bilah baja besar bersandar di sisinya.

“Nasi dengan ikan terbaik di sungai Musi,” ujar pemuda itu pada pemilik warung. Tanpa berkata-kata ia berjalan keluar.
“Kabarnya Gangga memiliki ikan terbaik,” laki-laki berkeris yang duduk di seberangnya membalas tanpa menolehkan wajahnya ke arah pemuda. Ia hanya menenggak minuman di depannya.
“Hanya bila Kali mengizinkan,” jawab si pemuda.

Kedua laki-laki yang sedang menikmati minuman itu berdiri bersamaan, bagai menerima aba-aba. Si laki-laki tua meletakkan sekeping koin logam di meja dan bergegas keluar dari warung. Si pemuda bergeming di tempatnya. Tak berapa lama si pemilik warung kembali dengan sebungkus nasi. Terselip secarik lontar di dalamnya. Pemuda itu menganggukkan kepalanya, berterima kasih, lalu ia pun berjalan keluar.

§

Si pemuda berjalan ke arah pinggiran sungai. Di kejauhan tampak beberapa kapal merapat di sisi pelabuhan ibukota Srivijaya. Dua orang laki-laki tadi telah berdiri menunggu di bawah bayang-bayang pohon kelapa. Si pemuda bergerak mendekat. Ia berdiri di samping mereka, menghadap ke arah sungai.

“Jadi sekarang mereka mengirim pustakawan untuk tugas-tugas seperti ini,” Arya si laki-laki tua membuka percakapan.
“Aku yang menemukan lokasi mereka. Iskandariya merasa perlu mengirimku untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di sini,” jawab Farhad, si pemuda pustakawan.
“Kenapa, mereka sudah tidak percaya padaku?” balasnya.
“Anda sangat dihormati di kawasan ini, tetua. Kedigdayaan anda sebagai telik dan prajurit telah sampai ke aula-aula Para Penjaga. Saya semata-mata mengikuti perintah,” jawab si pemuda, nada bicaranya menunjukkan rasa hormat yang tulus.
“Berwindu-windu aku memimpin di wilayah ini, tidak sekalipun aku gagal. Tidak pernah sekalipun aku kehilangan prajurit.”
“Saya dapat menjaga diri bila itu yang anda khawatirkan.”
“Dengarkan aku, pemuda. Di sana kamu akan menuruti setiap perintahku. Aku tidak peduli bila Pallas sendiri yang mengirimkanmu, di pertempuran aku yang memimpin. Simak setiap perkataanku dan kamu akan tetap hidup.”
“Tentu saja, tetua,” jawab pemuda itu.

§

Ketiga laki-laki tersebut berjalan menembus hutan Swarnadwipa yang lebat. Cahaya bulan purnama bersinar melalui celah-celah pepohonan. Hewan malam bersahut-sahutan. Wangi cendana memenuhi udara.

“Kita sudah dekat,” ujar Arya. Di hadapannya berdiri sebuah patung kayu. Patung perempuan telanjang bertangan delapan. Di leher patung tersebut terlilit sebuah kalung dengan belasan jari-jemari manusia. Sebagian tampak masih mengeluarkan darah.

“Teryata kabar itu benar adanya. Padahal kukira para pengikut Bhairava sudah punah,” ujar Lawi, pemuda bertombak.
“Semua juga berpikir seperti itu. Hingga beberapa bulan lalu saat aku menemukan beberapa hal aneh dari laporan Para Penjaga di Sri Ksetra,” jawab Farhad.
“Lantas apa yang membangkitkan mereka?”
“Para telik yang kita kirimkan ke sana mengatakan bahwa mereka berencana membebaskan Bhairava.”
“Apa? Apakah kamu gila, pustakawan? Tidak ada yang dapat kabur dari Shambhala,” ujar Lawi.
“Iskandariya tidak berpikir begitu. Kami mengetahui bahwa di dalam hutan Swarnadwipa tersimpan pusaka Bhairava yang terkubur sejak masa-masa Perang Besar.”
“Pusaka macam apa yang mampu membuat mereka berani mendekati gunung-gunung suci?”
“Aku juga tidak tahu. Tetapi Iskandariya tidak mau mengambil resiko.”

Di bawah sebuah beringin raksasa tiba-tiba langkah mereka terhenti. Arya memberi isyarat untuk diam di tempat. Mereka dapat merasakan kehadirannya. Angin berhenti bertiup, tiada suara dedaunan bergesekan. Bahkan suara serangga pun sirna. Sunyi senyap, seolah-olah seluruh hutan menjadi bisu.

Lawi mengambil posisi kuda-kuda, lengannya erat memegang tombak pada posisi tarung. Arya mengeluarkan keris. “Pustakawan, kamu bisa bertarung?” tanyanya.
“Jangan khawatirkan aku, tetua,” jawabnya.

Farhad mengeluarkan dua bilah pedang pendek. Gagang-gagangnya tampak tersambung dengan seutas tali ke sebuah piranti di punggungnya. Dengan sebuah gerakan, tiba-tiba bilah-bilah pedangnya menyala bagaikan diselimuti petir-petir kecil.

Hutan yang senyap telah berubah ramai. Pekikan menggema di mana-mana. Suaranya nyaring, bagaikan teriakan perempuan penuh dendam dan amarah. Sudah jelas bagi Para Penjaga berpengalaman seperti mereka, para musuh di kegelapan ini bukanlah manusia biasa.

“Bersiaplah.”

One thought on “Bhairava di Hutan Swarnadwipa

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: