Nurani

Laut Kidul, 1406

Langit memerah. Lidah api raksasa melalap kapal-kapal Keraton Timur. Bara menari-nari di malam tanpa rembulan. Jasad para bangsawan dan pengawalnya yang telah terkoyak-koyak keris dan cetbang terombang-ambing di antara ombak. Pasukan kecil itu jelas bukan tandingan para pengawal perairan ini, armada selatan Majapahit.

Tak lama setelah pasukan darat Keraton Barat menembus pertahanan Lumajang, Bhre Wirabumi beserta keluarga besarnya melarikan diri ke arah pesisir selatan. Mereka berencana berlayar ke pulau Bali. Desas-desus menyebutkan bahwasanya kerajaan kecil itu bersiap untuk melepaskan diri dari genggaman kekaisaran. Bagi mereka, musuh Trowulan adalah teman dan sekutu.

Akan tetapi rencana pelarian ini sempat terendus telik sandi Majapahit. Mereka pun menyiapkan jebakan. Kapal-kapal pelarian Keraton Timur bergerak dari balik rawa-rawa kala mentari tenggelam. Sontak belasan kapal cepat armada selatan yang bersembunyi di balik Nusa Barung mengibarkan layar. Sebelum tengah malam, flotila pelarian luluh lantak.

Larang dan Nadim berenang perlahan mendekati salah satu kapal besar yang mulai terbakar. Dengan buluh perumpung di mulut masing-masing, mereka menyelam bergerak tanpa mengeluarkan riak. Mereka tak ingin terdeteksi pasukan Majapahit yang berada tak jauh dari kapal-kapal Keraton Timur.

Mereka memanjat sisi kiri lambung dan mendarat di geladak tanpa terlihat. Api yang melalap tiang layar utama semakin membesar. Dengan tubuh tertutup jelaga keduanya bergerak menyatu dengan bayangan.

Di tangga menurun ke dalam lambung kapal yang terletak di buritan Nadim berbisik pada Larang, “naskah-naskah yang kita cari memiliki cap Sang Hyang Baruna. Ambil semua yang kau temukan.”

Nadim berbadan kekar dengan parut luka di sekujur tubuh. Rambut dan cambangnya putih, suaranya berat dan parau. Ia berbicara dengan logat orang-orang selat. Sementara Larang adalah seorang pemuda dari pantai di barat laut pulau Jawa. Rambutnya yang masih basah oleh air laut menyapu pundaknya yang kecoklatan oleh matahari. Ia menganggukkan kepala pada perintah Nadim. Mereka bergegas ke arah yang berlawanan.

Larang menyusuri salah satu lorong di dalam lambung. Semakin ke dalam semakin sulit baginya untuk bernafas. Suhu udara pun semakin panas. Bau anyir menyeruak dari mayat-mayat yang tergeletak di lantai kapal. Tanpa membuang waktu ia mengumpulkan dan memilah naskah-naskah di sana. Sesuai perintah yang diterima beberapa hari lalu: naskah dengan cap Sang Hyang Baruna. Naskah peninggalan Rakryan Tumenggung Mpu Nala yang masih tersisa.

Dari balik pecahan kayu di lambung kapal ia dapat melihat umbul-umbul Pataka Gula Kelapa berkibar di luar sana. Kapal-kapal armada selatan masih berjaga-jaga. Satu dua cetbang menyalak menembaki orang-orang Keraton Timur yang kedapatan masih hidup dan mencoba melarikan diri bersama ombak di dalam kegelapan malam. Perintah Bhra Narapati jelas, tidak ada musuh yang boleh dibiarkan hidup.

Larang berlari ke arah tangga yang menuju buritan. Saat ia menapakkan kaki di anak tangga, dari balik dinding kayu ia mendengar suara tangisan. Larang tertegun. Tangisan seorang anak kecil. Ia mencoba mendekati arah suara.

“Apa yang kau lakukan, Larang. Kita harus segera keluar dari kapal celaka ini,” tiba-tiba Nadim telah ada di belakangnya.
“Kau mendengarnya juga kan? Ada seorang anak di sini. Kita harus menolongnya,” seru Larang setengah berbisik.
“Tugas kita hanya menyelematkan naskah! Kita tidak menyimpang dari tugas dan kita tidak masuk ke dalam pertikaian mereka. Aku tahu kamu baru bergabung, jadi akan kuingatkan sekali lagi: Para Penjaga tidak ikut campur,” jawab Nadim yang telah berdiri di ujung atas tangga. “Putuskan sekarang juga.”

Larang terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih dapat mendengar isakan tangis itu. Sayup-sayup masih mendengar letusan cetbang dan sorak sorai prajurit Majapahit. Udara semakin hangat oleh api yang membesar membakar tiang-tiang utama. Sewaktu-waktu tiang-tiang tersebut dapat runtuh, menyebarkan api ke lambung kapal dan membakarnya habis.

§

Di rawa-rawa beberapa ratus tombak dari lokasi flotila Keraton Timur, Nadim muncul dari dalam air. Ia menyelinap di antara akar-akar hutan bakau menuju salah satu semak-semak di tepian. Tetapi ternyata itu bukan semak sesungguhnya. Lebih menyerupai selimut yang berbentuk semak-semak. Ia membukanya dan di balik selimut itu tersembunyi sebuah sampan.

Tiba-tiba sebuah kantung dilemparkan ke dalam sampan. Nadim berbalik ke arah lemparan, seketika tangannya telah menggenggam sebilah kerambit.

Itu adalah Larang. Ia telah berdiri di belakang Nadim. Dadanya kembang kempis.

“Itu naskah yang aku kumpulkan di kapal. Aku telah menyelesaikan perintah. Apa yang akan kulakukan sekarang adalah pilihanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Para Penjaga,” Larang berbalik memunggungi Nadim, bersiap kembali menuju laut.

“Hey, pemuda bodoh!” Nadim berseru. Larang membalikkan badannya. Dengan reflek tangannya menangkap benda yang dilemparkan oleh Nadim. Sebuah bungkusan kain berisi busur silang kecil dengan lima buah anak panah besi.

“Jangan kau mati malam ini,” ujar Nadim datar. Larang menganggukan kepalanya. Ia segera berlari ke arah laut. Dalam sekejap tubuhnya menghilang bersama ombak muara yang kelam.

Malam semakin larut, di kejauhan api masih menari. Menari-nari bagaikan mengiringi nyanyian lirih sang ratu penguasa lautan ini.

2 pemikiran pada “Nurani

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.