Payung

Kopi di cangkir tak lebih dari satu buku jari. Aku masih enggan pergi. Angin musim semi menusuk kulit, seiring rintik hujan mulai berderai. Setiap hembusan angin yang membelai, setiap butir air yang menerpa, ingatan akan dirinya tersusun. Keping demi keping. Semakin jelas, semakin mengiris. Kerinduanku untuknya, rasa sakit yang menagih.

§

“Apa lah artinya bila kita teruskan?” ia berbisik.

Aku masih terdiam. Aku tahu cepat atau lambat kalimat ini akan kembali dia ucapkan. Dan aku akan kembali membeku tak mampu menjawab.

“Sayang, tolong jawab,” masih dengan suara yang lembut.

Aku selalu kagum akan kemampuannya menyembunyikan kemarahan.

Wajar bila ia marah. Wajar bila ia kecewa. Aku di sini cuma bisa memeluk, tapi aku tak akan pernah bisa mempertahankan. Dan ia juga tidak mau. Terlalu banyak hati yang akan tersakiti, katanya.

Aku melepaskan pelukan.

Aku melangkah ke tepi balkon apartemen. Pagi mulai menjelang. Jalanan sudah mulai tampak hidup. Suara mesin kendaraan mulai terdengar satu-satu. Beberapa orang turun dari van, mengeluarkan barang-barang dari gudang di seberang jalan lalu memasukkannya ke dalam untuk mereka antarkan ke tujuan. Seorang bapak tua berjalan sendirian menembus trotoar yang sebagian masih tertutup salju. Ia tampak masih bugar untuk orang seumurnya, berjalan begitu lugas tak menghiraukan dingin. Seorang gadis berjaket tebal mengendarai sepeda sambil menggerak-gerakkan kepala, berdendang mengikuti musik di earphone, menikmati perjalanannya.

Matahari malu-malu muncul. Sinar menyembul terpilah-pilah dari balik gedung-gedung beton dan baja. Udara menghangat seiring fajar memudar. Salju mulai mencair. Semua berubah. Tak ada yang abadi. Seperti juga hubungan tak elok yang kami jalani.

Ini saat yang tepat untuk menutup tirai. Aku mencintainya. Dan aku akan merelakannya.

Bagai seorang pembaca pikiran, ia memelukku dari belakang, dan membisikkan kalimat yang akan aku ingat selamanya.

Apa yang pernah kita jalani akan selalu kita miliki.

Lalu akhir itu datang begitu saja. Ia melangkah pergi. Aku bahkan tak berbalik untuk menatapnya melangkah keluar pintu apartemen. Aku malu bila ia melihat air mata ini. Air mata seorang lelaki lemah. Dua menit berlalu, aku membalikkan badan. Melangkah masuk dari balkon. Tak sanggup bila harus melihatnya melangkah keluar dari gedung ini.

Aku bahkan tak berlari mengejar saat kulihat payungnya tertinggal, berdiri diam di samping pintu, mengejek aku yang pengecut.

Mungkin aku memang tak pantas untuknya.

§

Mereka bilang, waktu menyembuhkan segalanya. Seperti hujan menghanyutkan debu, membersihkan dan menyucikan. Namun aku tak percaya. Hujan hanyalah kondensasi awan yang jatuh ke bumi. Satu bagian dari roda alam yang telah berputar jutaan tahun. Manusia dan emosinya, melihat romansa dalam butiran hidrogen dan oksigen yang semata-mata mematuhi hukum gravitasi. Cih.

Aku tak mau larut dalam siksa. Merindunya adalah adiksi. Kebahagiaan sesaat yang diikuti kepedihan berkepanjangan. Aku tak mau tertinggal kereta terakhir ke rumah. Kubuka payung dan kuterobos hujan.

Sial, bau rambutnya masih menempel di payung ini.

 

[Dukung Karim Nas di KaryaKarsa]

Foto oleh Lerone Pieters di Unsplash

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.