Di Belakang Warung, Di Pinggir Hutan Jati

Tangannya yang kasar mulai menggerayangi kutangku. Ia selipkan ujungnya jarinya ke dalam. Aku hanya diam saja. Kepalaku agak pening malam ini. Telah habis semangat untuk melayani.

“Huh. Kau dingin sekali. Sayang sekali hanya warungmu yang masih buka.”

Dari suaranya ia nampak kesal. Tapi apa daya, aku sebenarnya sudah lelah. Malam pun sudah larut. Aku tak ingin menerima pelanggan lagi, tetapi aku butuh uangnya.

Ia membuka paksa kutangku. Ia benamkan wajahnya ke dada. Kurasakan lidahnya menjilati setiap jengkal payudara.

Di luar gerimis terus membasahi pucuk-pucuk daun jati. Aku kembali teringat peristiwa tadi siang saat sedang mengumpulkan kayu bakar. Kudapati Mina menangis di belakang gubuk kami. “Aku ingin ikut berdarmawisata, bu,” ujarnya. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku hanya seorang mantan buruh yang dipecat tanpa pesangon karena pabrik tempatku bekerja bangkrut. Dan aku hanya punya Mina, anak gadisku yang ditinggalkan bapaknya semenjak masih dalam kandungan.

Malam ini terasa sunyi. Jalanan tak seramai biasanya. Hanya satu dua bis malam yang terdengar menggilas aspal. Hujan semenjak sore serta sedikitnya supir-supir truk yang mampir membuat banyak warung sudah tutup sebelum isya. Hanya warungku yang masih buka saat sebuah truk dari arah timur berhenti di depan.

Kini lelaki itu sudah berdiri telanjang di hadapanku. Badannya hitam legam, dadanya penuh dengan rambut halus. Ia mendorongku kasar ke dipan.

“Tolong jangan kasar-kasar, kang. Saya akan tetap layani.”
“Diam! Jangan kau buat aku semakin kesal!”

Matanya merah dan sembab. Tak ada bau tuak di mulutnya. Tak seperti supir-supir lain yang suka mampir ke warung. Sinar wajahnya kelam, seolah menanggung beban berat. Tapi aku tak berani bertanya.

Aku bangkit dan berusaha meraih tas.

“Pakai ini dulu, kang,” pintaku padanya.

Tiba-tiba air mukanya berubah. Tamparan melayang ke pipiku.

“Sundal! Kau pikir aku kotor! Sialan! Pelacur sialan!”

Belum sempat aku bangkit tangannya telah menjambak rambutku. Telanjang dan tak mampu melawan, aku merasa begitu hina. Kugapai kain di dipan untuk menutupi tubuhku. Mencoba menyelamatkan yang tersisa dari harga diri ini.

“Aja, kang. Maaf. Tolong jangan sakiti saya.”

Aku hanya bisa mengiba. Kucoba menggengam tangannya, berharap ia insyaf dan melepaskan jambakannya.

“Kalian perempuan sama saja!”

Aku dibantingnya. Kepalaku terhempas ke kaki-kaki dipan. Rasa anyir terasa di mulut. Seolah kesurupan ia menendangku yang masih terjerembab di lantai kayu. Berkali-kali tanpa jeda.

Tubuhku terus disiksa. Hatiku cuma bisa menahan amarah dan keputusasaan. Ruangan semakin lama terasa semakin gelap. Ia terus saja melampiaskan kekesalannya, membunuhku pelan-pelan. Aku hanya meringkuk menahan sakit. Tak mampu bersuara. Tak mampu menangis. Di bilik bambu di belakang warung, di pinggir hutan jati.

§

“Mak! Emak! Bangun, mak!”

Kudengar sayup-sayup suara Mina. Aku mencoba membuka mata. Tapi tetap tak dapat kulihat jelas wajah anak gadisku itu. Aku mencoba bangkit. Sekujur tubuhku bagai tertusuk jarum.

“Mak! Jangan mati, mak…”

Kurasakan kehangatan menjalar di pipi. Air mata Mina deras membasahi wajahku. Kemudian aku teringat akan laki-laki tadi. Rasa takut menyeruak di batin ini, takut kalau ia pun akan melukai Mina. Biarpun kiamat di depan mata, tak kan kubiarkan itu terjadi. Sakit di tubuh tak kuhiraukan. Kucoba menegakkan kaki-kaki yang penuh lebam.

Saat pandanganku mulai jelas, kudapati tubuh laki-laki itu. Tubuhnya tergeletak tak bernyawa di dekat pintu. Kapak kecil yang biasa kupakai membelah kayu bakar menancap di tengkuknya. Darah menggenang.

Butuh waktu sepersekian detik bagi benakku untuk memahami apa yang baru terjadi. Aku segera merenggut tangan Mina. Gadis itu sesegukan melihat diriku yang berantakan. Mungkin juga ia meratapi nasib kami. Entahlah. Aku cuma ingin segera pergi.

“Mina. Ayo kita pergi, nak.”

Di sanalah aku dan anak gadisku, tergopoh-gopoh menembus hutan jati yang penuh lumpur. Di bawah guyuran hujan yang tak mau juga berhenti, seolah hutan dah hujan berusaha menutupi jejak kami berdua.

Aku tak tahu kemana kami harus menuju. Aku cuma tahu kami harus pergi. Pergi dari warung berdarah itu. Pergi dari dunia yang akan menghakimi kami. Anakku semata wayang, hanya dia yang berharga di dunia ini. Aku rela kehilangan segalanya asal bukan dia. Jadi kami terus berlari. Berlari dan berlari.

Satu pemikiran pada “Di Belakang Warung, Di Pinggir Hutan Jati

Tinggalkan pesan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.